P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Kritik Internasional terhadap Standar Ganda IOC di Indonesia

Kritik Internasional terhadap Standar Ganda IOC di Indonesia

Kritik terhadap Tindakan IOC Terhadap Indonesia

Komite Olimpiade Internasional (IOC) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan resmi yang meminta federasi olahraga global untuk tidak menyelenggarakan acara terkait Olimpiade di Indonesia. Pernyataan ini dilakukan setelah pemerintah Indonesia menolak memberikan visa bagi atlet senam Israel yang akan mengikuti Kejuaraan Dunia Senam Artistik di Jakarta. Meski pernyataan IOC disampaikan dengan nada diplomatis, banyak pihak menilai bahwa lembaga tersebut menerapkan standar ganda dalam penanganannya.

Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir telah menegaskan sikap tegas negara terhadap Israel. Keputusan ini diambil karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut. Menpora juga menekankan bahwa langkah yang diambil berdasarkan prinsip keamanan, ketertiban umum, dan kepentingan publik, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Standar Ganda IOC

Perilaku IOC dalam kasus ini mendapat kritik dari jurnalis internasional, termasuk Nury Vittachi, ketua asosiasi penulis terbesar di Asia-Pasifik. Ia menilai bahwa IOC memberikan pesan tegas kepada Indonesia: Jika kalian melarang atau menghukum Israel, maka IOC akan melakukan hal yang sama bahkan lebih keras terhadap Indonesia.

"Untuk menghukum Indonesia, IOC kemarin melancarkan serangan besar-besaran terhadap kemampuan Indonesia menjadi tuan rumah acara olahraga global. IOC menyatakan bahwa Indonesia tidak akan diizinkan menjadi tuan rumah acara terkait Olimpiade dalam bentuk apa pun. Luar biasa. Standar ganda yang mengejutkan," tulisnya.

Vittachi juga mengingatkan bahwa IOC sebelumnya melarang atlet Rusia berpartisipasi di event internasional karena invasi ke Ukraina. Namun, lembaga tersebut dianggap tutup mata terhadap tindakan Israel di Gaza, Palestina.

Reaksi Global terhadap Sikap Indonesia

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia menolak visa bagi atlet senam Israel di tengah protes internasional atas aksi genosida Israel di Gaza. Sikap tegas ini membuat atlet Israel tidak bisa mengikuti Kejuaraan Dunia Senam Artistik yang digelar di Jakarta.

Menpora Erick Thohir merespons pernyataan IOC dengan menegaskan bahwa pemerintahan Indonesia memiliki alasan kuat dalam mengambil langkah tersebut. Ia menekankan bahwa kebijakan ini didasarkan pada UUD 1945 yang menghormati keamanan dan ketertiban umum, serta kewajiban pemerintah untuk menjaga stabilitas nasional.

Perjalanan Selanjutnya

Beberapa hari setelah pernyataan IOC, lembaga tersebut memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia dan Federasi Senam Internasional (FIG) untuk menghadiri pertemuan di markas IOC di Lausanne guna membahas masalah ini. Namun, hingga saat ini, tanggal pertemuan belum ditentukan.

Kritik terhadap IOC terus meningkat, terutama karena mereka dianggap tidak konsisten dalam menangani isu politik dan kemanusiaan. Di satu sisi, IOC mengambil tindakan terhadap negara-negara yang dianggap melanggar prinsip Olimpiade, tetapi di sisi lain, mereka diam terhadap tindakan yang dianggap melanggar hak asasi manusia.

Kesimpulan

Kasus ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara olahraga dan politik, serta bagaimana organisasi internasional seperti IOC harus mempertimbangkan berbagai aspek dalam pengambilan keputusan. Meskipun IOC berusaha menjaga netralitas, kritik terhadap tindakan mereka terus bermunculan, terutama dalam konteks standar ganda dan kebijakan yang dinilai tidak adil.

0

Posting Komentar