
Gerbong Khusus Perempuan di KRL: Tantangan dan Keluhan Pengguna
Gerbong khusus perempuan di Kereta Rel Listrik (KRL) awalnya dibuat sebagai ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang wanita. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pengguna merasa bahwa kondisi di dalam gerbong tersebut justru semakin tidak nyaman, terutama saat jam sibuk.
Widya (33), salah satu pengguna KRL dari Stasiun Cikoya, mengungkapkan bahwa ia lebih memilih menggunakan gerbong umum karena suasana di sana terasa lebih tertib. "Meskipun saya perempuan, saya lebih nyaman di gerbong umum karena perempuan sering kali lebih ganas," ujarnya saat ditemui di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Menurut Widya, situasi di gerbong khusus perempuan seringkali tidak kondusif saat jam sibuk. "Mungkin sama-sama enggak mau ngalah, jadi suasananya cepat-cepatan masuk," tambahnya. Meski demikian, ia tetap mengakui bahwa keberadaan gerbong ini penting. Namun, efektivitasnya menurun ketika kepadatan meningkat akibat keterlambatan perjalanan. "Sebenarnya efektif, tapi karena padet akibat keterlambatan jadi mereka enggak ada yang mau ngalah."
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Nurin (20), seorang penumpang dari Rangkasbitung. Ia mengatakan bahwa gerbong khusus perempuan memberikan rasa aman yang lebih baik. Namun, lokasi gerbong di ujung rangkaian membuatnya sulit dijangkau, terutama saat stasiun sedang ramai. "Kalau saya biasanya tetap di gerbong umum karena kalau wanita harus jalan lagi ke ujung, jadi jauh," katanya.
Nurin berharap PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dapat menambah jumlah gerbong agar penumpang lebih tersebar dan tidak saling berebut ruang. "Berharap KRL itu ditambahin lagi gerbongnya, jadi lebih banyak lagi," ujarnya.
Kepadatan di Jalur Green Line
Tim BroKerja yang menjajal KRL jalur Green Line pada Kamis (23/10/2025) pagi di Stasiun Pondok Ranji, Ciputat, menemukan kondisi yang sangat padat. Hingga pukul 08.00 WIB, penumpang terus berdesakan untuk masuk ke kereta yang sudah penuh bahkan sebelum tiba di peron. Petugas keamanan tampak mendorong penumpang agar bisa masuk ke gerbong terakhir sebelum pintu tertutup.
Di dalam kereta, udara panas bercampur keringat langsung terasa menyengat, sementara pendingin udara tak mampu menandingi rapatnya tubuh-tubuh yang berdiri. Beberapa penumpang hanya bisa bertahan sambil berpegangan pada tiang, sementara lainnya bahkan tak sempat berpegangan karena ruang yang begitu sempit.
Kepadatan semakin parah ketika kereta berhenti di Stasiun Kebayoran. Meski petugas berulang kali mengimbau agar penumpang tidak memaksakan diri naik, antrean tetap tak surut. "Hati-hati bagi penumpang dan tidak memaksakan diri saat menaiki kereta," bunyi pengumuman dari pengeras suara stasiun. Namun, imbauan itu sulit diindahkan.
Dita (27), pegawai swasta yang setiap hari harus menempuh perjalanan dari selatan Jakarta ke pusat kota, mengungkapkan bahwa kepadatan ini sering membuatnya terburu-buru. "Kalau enggak maksa sekarang, bisa telat banget sampai kantor," ujarnya.
Yeni (29), penumpang lain, mengaku sudah menunggu hampir satu jam sebelum akhirnya berhasil naik. "Dari jam 07.10 WIB baru naik tadi. Hampir sejam nunggu, enggak tahu ini kenapa, biasanya juga enggak kayak gini," katanya. Ia yang bekerja di Matraman menyebut, keterlambatan dan kepadatan berulang membuat perjalanan terasa semakin melelahkan.
Harapan agar KRL Lebih Manusiawi
Bagi pengguna KRL jalur Green Line, desakan dan antrean panjang sudah menjadi rutinitas. Iqbal (34), penumpang dari Ciputat, mengatakan situasi serupa terjadi hampir setiap hari. "Setiap pagi begini. Apalagi kalau mau ke arah Tanah Abang, pasti padat banget," ucapnya.
Ia berharap pemerintah dan KAI Commuter segera menambah rangkaian kereta agar kapasitas lebih memadai. "Kalau bisa ada penambahan gerbong biar enggak numpuk-numpuk gini," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan kembali oleh Widya. Menurutnya, sejumlah titik seperti Stasiun Rawabuntu dan Sudimara sering menyebabkan antrean panjang karena gangguan sistem tap in. "Kadang tap-nya itu suka lama, jadi telat begitu, enggak tahu karena enggak ada sinyal atau gimana. Jadi, dia numpuk di stasiun tersebut," jelasnya. Ia menambahkan, waktu tempuhnya bisa molor hingga 30 menit dari biasanya. Meski begitu, ia tetap mengandalkan KRL sebagai moda transportasi tercepat. "Cukup puas sih, cuma memang harus siap desak-desakan. Paling riskannya itu kalau keterlambatan kereta, sekarang sudah tiga hari gini terus," katanya.



Posting Komentar