
Dampak Penutupan Tambang di Bogor Berdampak ke Wilayah Bojonegara
Penutupan tambang di wilayah Bogor, Jawa Barat, telah memberikan dampak yang terasa langsung oleh masyarakat di Bojonegara, Kabupaten Serang. Kondisi ini menyebabkan peningkatan aktivitas truk tambang di ruas jalan Bojonegara-Puloampel, Kabupaten Serang. Hal ini memicu perhatian dari pihak berwajib untuk segera mengambil tindakan agar jalur tersebut tetap lancar.
Sejak tiga pekan terakhir, Polsek Bojonegara telah melakukan penindakan guna memastikan kelancaran lalu lintas. Menurut Kapolsek Bojonegara Iptu Satria Wibowo, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir dampak dari serbuan truk tambang dari Jawa Barat. Tindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap arahan dari kapolda dan kapolres setempat.
Beberapa langkah yang telah diterapkan antara lain pengaturan lalu lintas, serta menetralisir posisi jalan agar tidak ada kendaraan yang berhenti di bahu jalan. Selain itu, jam operasional truk tambang juga ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antara Kapolres Cilegon dan Walikota Cilegon. Tujuannya adalah agar truk tidak melintasi jalan utama Bojonegara.
Secara teknis, pihak kepolisian menutup akses jalan tambang pada pukul 16.00 dan menahan truk agar tidak melintas. Pada waktu tersebut, para sopir truk diimbau untuk menganggapnya sebagai waktu istirahat. Alasan utamanya adalah karena jam tersebut merupakan waktu pulang kantor bagi banyak warga. Oleh karena itu, jalanan akan lebih lancar terlebih dahulu, kemudian baru diizinkan melintas pada jam 19.00 atau sesuai situasi.
Untuk pagi hari, truk tambang juga ditahan agar tidak melintas dari pukul 06.00 hingga 09.00. Kapolsek menekankan pentingnya kesadaran dari pelaku usaha tambang dan para sopir truk untuk tidak melintas di jam sibuk. Meski saat ini sanksi hanya berupa imbauan, pihaknya berupaya agar truk tambang berhenti di kantong parkir yang tersedia, seperti di lingkungan tambang atau tanah kosong yang bisa menjadi tempat parkir.
Penanganan terhadap truk tambang telah dilakukan sejak sekitar tiga pekan terakhir. Sebelum adanya kesepakatan dari pihak Polres maupun bupati dan walikota, Polsek Bojonegara sudah lebih dulu melakukan tindakan. Hal ini dilakukan karena prinsip dasar mereka adalah menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Patut disyukuri, akhirnya penanganan ini diikuti dengan kesepakatan bersama. Mengingat dampak dari truk tambang bukan hanya terasa di Bojonegara, namun juga beberapa wilayah lain di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon. Setiap hari, sekitar 1.000 kendaraan melintasi jalur Bojonegara-Puloampel. Meskipun ada pembatasan, jumlah kendaraan tetap tinggi karena kebutuhan konsumen.
Meski demikian, masih ada truk yang membandel selama tiga minggu terakhir. Kemungkinan besar, para sopir melanggar aturan karena terburu-buru atau ada kepentingan lain. Pihak kepolisian terus memberikan imbauan agar para sopir mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.
Kapolsek juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya di Bojonegara, untuk bersikap arif dan bijaksana dalam menghadapi situasi saat ini. Ia menjelaskan bahwa masalah ini tidak hanya bersifat lokal, melainkan skala nasional. Oleh karena itu, diperlukan peran serta dari pemerintah pusat, terutama karena jalan yang digunakan adalah jalan nasional.
Ia berharap dinas terkait dan instansi terkait dapat bekerja sama untuk mengurangi dampak dari penutupan tambang di Jawa Barat. Selain itu, kekurangan seperti jalan rusak dan lampu PJU yang mati perlu segera diperbaiki agar masyarakat merasakan upaya dari pemerintah.
Selain itu, sedang ada kajian terkait Peraturan Gubernur (Pergub) yang akan mengatur truk tambang sesuai kebutuhan masyarakat. Semoga saja Pergub tersebut segera keluar dan hasilnya sesuai harapan masyarakat, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.



Posting Komentar