P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Mengenal Lemierre's Syndrome, Penyakit Tenggorokan Mematikan

Featured Image

Penyakit Langka yang Mengancam Kehidupan: Lemierre’s Syndrome

Lemierre’s syndrome adalah kondisi medis langka yang dimulai dari infeksi tenggorokan dan dapat menyebar ke pembuluh darah besar, sehingga berpotensi mengancam nyawa. Infeksi ini bisa menyebabkan terbentuknya gumpalan darah yang berbahaya. Meskipun jarang terjadi, penyakit ini sangat serius dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Gejala Awal yang Sering Disalahartikan

Gejala awal Lemierre’s syndrome sering kali mirip dengan infeksi virus biasa. Penderita biasanya mengalami sakit tenggorokan yang berlangsung lebih dari lima hari, demam tinggi, kelelahan, serta nyeri otot. Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan jika sakit tenggorokan tidak membaik meski sudah diberi antibiotik.

Selain itu, pasien mungkin merasakan nyeri dan pembengkakan di salah satu sisi leher, mulai dari area telinga hingga bawah rahang. Suara juga bisa terdengar serak atau teredam akibat infeksi. Pada tahap lanjut, gejala bisa disertai mual, muntah, diare, batuk, nyeri saat bernapas, serta menggigil dan sakit kepala hebat.

Beberapa kasus lain melibatkan nyeri sendi, kulit berwarna kekuningan, nyeri gigi, bahkan batuk berdarah meskipun jarang terjadi. Tanpa perawatan, infeksi bisa berkembang menjadi sepsis, yaitu peradangan hebat pada organ akibat bakteri dalam darah. Sepsis ditandai oleh demam tinggi, napas pendek, jantung berdebar, kebingungan mental, dan kelelahan ekstrem.

Jika sepsis semakin parah, pasien bisa mengalami penurunan tekanan darah, kesulitan bernapas, halusinasi, bicara tidak jelas, gangguan irama jantung, penurunan jumlah urine, hingga bercak kulit berwarna keunguan. Kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan jiwa.

Komplikasi yang Muncul

Selain sepsis, Lemierre’s syndrome juga bisa menyebabkan pneumonia, yaitu peradangan pada paru-paru yang ditandai oleh nyeri dada menusuk, napas cepat, keringat berlebih, dan mengi. Infeksi juga bisa menyebar menjadi meningitis, yakni infeksi pada cairan otak dan sumsum tulang belakang. Gejalanya antara lain kejang, kaku leher, pembengkakan kepala, serta gangguan kesadaran.

Penyebab dan Faktor Risiko

Lemierre’s syndrome biasanya dimulai dari infeksi bakteri di tenggorokan, meski kadang juga bisa berasal dari telinga atau hidung. Bakteri ini kemudian menyebar ke vena jugularis interna, pembuluh darah besar yang menghubungkan otak dengan jantung dan paru-paru. Dari sini, infeksi masuk ke aliran darah dan membentuk bekuan darah yang terinfeksi.

Sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri Fusobacterium necrophorum. Bakteri ini sebenarnya bisa ditemukan secara alami di tubuh manusia, seperti pada usus besar, usus halus, dan tenggorokan. Namun, dalam kondisi tertentu, bakteri bisa berkembang agresif dan menyebabkan infeksi berat.

Ahli percaya bahwa lemahnya sistem pertahanan tubuh akibat penyakit lain di tenggorokan dapat mempercepat penyebaran bakteri. Penggunaan antibiotik berlebihan dalam jangka panjang juga dianggap membuat bakteri menjadi lebih kuat. Ironisnya, karena penggunaan antibiotik kini lebih dibatasi demi kesehatan masyarakat, risiko infeksi ini justru meningkat.

Lemierre’s syndrome bisa dialami siapa saja dengan infeksi saluran pernapasan atas. Kasusnya lebih sering ditemukan pada orang di bawah usia 30 tahun, terutama remaja dan dewasa muda, meski tidak menutup kemungkinan terjadi pada semua kelompok usia. Umumnya, penderita adalah individu sehat tanpa riwayat penyakit serius sebelumnya.

Diagnosis yang Sulit

Sebelum ditemukannya antibiotik, Lemierre’s syndrome lebih umum. Namun setelah era antibiotik, kasus ini nyaris hilang dan disebut sebagai "penyakit yang terlupakan." Hal ini membuat diagnosis menjadi sulit karena banyak dokter jarang menemui kasus serupa.

Proses diagnosis biasanya dimulai dengan pemeriksaan sampel darah untuk mendeteksi keberadaan bakteri. Dokter kemudian dapat menggunakan CT scan dengan kontras atau USG untuk melihat adanya gumpalan darah pada vena jugularis interna. Selain itu, rontgen dada juga bisa dilakukan untuk mengecek apakah infeksi telah menyebar ke paru-paru.

Diagnosis yang cepat sangat penting karena semakin lama infeksi dibiarkan, semakin tinggi risiko komplikasi yang bisa mengancam nyawa pasien.

Pengobatan dan Prognosis

Setelah diagnosis ditegakkan, pengobatan Lemierre’s syndrome dilakukan segera dengan pemberian antibiotik dosis tinggi. Terapi biasanya berlangsung selama beberapa minggu dan diberikan langsung melalui infus agar obat cepat bekerja di dalam tubuh. Jenis antibiotik yang digunakan disesuaikan dengan bakteri penyebab, misalnya clindamycin, metronidazole, atau cephalosporin.

Dalam kasus tertentu, jika infeksi disebabkan oleh jenis bakteri lain atau kombinasi beberapa bakteri, dokter dapat menggunakan penicillin atau antibiotik lain yang lebih tepat sasaran. Pada kondisi lanjut, operasi mungkin diperlukan untuk mengeringkan abses, yaitu kumpulan nanah akibat infeksi yang terbentuk di leher, paru-paru, kepala, atau bahkan otak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat pengencer darah dapat membantu proses pemulihan, terutama jika disertai pemberian antibiotik dan tindakan operasi. Kombinasi terapi ini meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

Meskipun serius, prognosis Lemierre’s syndrome cukup baik jika pasien segera mendapatkan perawatan. Sebagian besar pasien mulai merasa lebih baik setelah beberapa hari terapi antibiotik, dan pemulihan total biasanya dicapai dalam waktu 3 hingga 6 minggu.

Namun, penyakit ini bisa lebih berbahaya dibanding gejala awalnya yang tampak ringan. Oleh karena itu, siapa pun yang mengalami sakit tenggorokan berkepanjangan disertai demam, nyeri leher, atau kesulitan bernapas sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

0

Posting Komentar