P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Bisnis Monyet dan Ekonomi Sedih: Kesedihan sebagai Komoditas

Featured Image

Perdagangan Emosi di Era Digital

Dulu, orang bisa ditipu lewat barang berupa ikan louhan atau batu akik. Sekarang, orang justru bisa ditipu lewat air mata. Dunia terus berubah, tapi pola penipuan tetap sama: memanfaatkan keinginan untuk kaya dengan cepat atau ingin dianggap percaya.

Monkey Business dalam Bentuk Baru

Dalam istilah klasik, monkey business merujuk pada bisnis yang menipu dan dikemas seolah-olah nyata. Barangnya bisa berupa benda fisik seperti tanaman janda bolong, ikan jenong, atau batu akik, bahkan bisa juga berupa hal-hal tak kasat mata seperti "data investasi", "foto NFT", hingga "doa digital". Semua ini terlihat sah di permukaan, namun nilainya rapuh. Ketika tren mulai surut, harga akan lenyap, dan yang tersisa hanya penyesalan.

Kini, monkey business telah berubah menjadi bentuk yang lebih halus dan bahaya: perdagangan emosi di dunia digital. Kita hidup di masa di mana konflik pribadi bisa disulap menjadi konten publik, di mana setiap air mata bisa menjadi sumber traffic, dan di mana penderitaan bisa dimonetisasi menjadi AdSense.

Dari Sengketa Jadi Sinetron

Contoh terbaru dari ekonomi emosi ini adalah kasus Yai MIM dan Sahara. Sebuah masalah pribadi tentang perumahan dan hubungan antarindividu tiba-tiba menjadi tontonan nasional. TikTok dan YouTube berebut menayangkan potongan video paling emosional: tangisan, tuduhan, klarifikasi, ancaman.

Bukan karena publik peduli kebenaran, tapi karena drama laku keras di pasar algoritma. Dalam ekonomi lama, nilai ditentukan oleh kelangkaan barang. Tapi dalam ekonomi baru, nilai ditentukan oleh kepekatan air mata. Siapa yang lebih pandai membentuk citra korban, dialah yang akan menang di ruang komentar. Dan siapa yang lebih viral, dialah yang akan menang di ruang ekonomi.

Iba sebagai Bisnis

Ini adalah bentuk baru dari monkey business: bukan menjual barang, tapi menjual iba. Para content creator tahu bahwa rasa belas kasihan manusia bisa diolah menjadi uang. Maka penderitaan ditata dengan pencahayaan yang bagus, musik latar lembut, dan judul video penuh kata "haru" dan "doakan".

Iba bukan lagi sekadar rasa, melainkan alat promosi. Korban bukan lagi manusia, melainkan brand awareness. Ironinya, publik pun ikut bersalah. Kita menonton, membagikan, dan berkomentar, seolah ikut menegakkan keadilan. Padahal yang kita tegakkan adalah engagement rate. Kita pikir sedang berempati, padahal hanya sedang menguntungkan mesin iklan.

Podcast dan Peradilan Algoritma

Platform seperti YouTube dan podcast kini menjadi pengadilan digital tanpa hakim. Orang datang untuk "klarifikasi", tapi sebenarnya sedang melakukan rebranding. Yang penting bukan fakta, melainkan bagaimana narasi dikemas. Kata yang tidak diucapkan bisa lebih menentukan daripada yang diucapkan. Air mata yang jatuh di detik ke-13 video bisa lebih berharga daripada bukti hukum.

Bahkan pembatalan tayangan pun kini bisa dijadikan strategi promosi. Semakin ditahan, semakin ditunggu. Semakin dilarang, semakin dicari. Keadilan berubah menjadi cliffhanger.

Akal Sehat Digital

Dalam situasi ini, satu-satunya pertahanan kita hanyalah akal sehat digital. Sebelum menekan tombol subscribe, kita perlu bertanya: Apakah ini perjuangan, atau pertunjukan? Apakah ini kebenaran, atau sekadar konten yang dikurasi dengan algoritma emosi?

Karena sebenarnya, monkey business tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah. Dulu menipu lewat batu akik, sekarang lewat belas kasihan. Dulu memanipulasi harga pasar, sekarang memanipulasi perasaan manusia.

Penutup

Kita hidup di zaman di mana semua hal bisa dijual—termasuk kesedihan. Dan yang paling laku di pasar digital hari ini bukan kebahagiaan, melainkan air mata yang viral. Jadi, kalau ada yang datang dengan wajah iba sambil berkata "dukung aku, tonton videoku," ingatlah: bisa jadi yang mereka jual bukan cerita, tapi dirimu sebagai penonton yang mudah tersentuh.

Karena dalam bisnis monyet era digital, yang paling sering ditipu bukanlah orang lain, melainkan akal sehat kita sendiri.

0

Posting Komentar