P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

IHSG Diperkirakan Tembus 8.168, Sentimen Domestik dan Global Dorong Perkembangan Pasar

Featured Image

Peluang Penguatan IHSG di Tengah Kondisi Ekonomi yang Menjanjikan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya dalam pekan ini dan menembus level resisten di 8.168. Faktor-faktor domestik seperti kuatnya konsumsi, penjualan kendaraan, serta stabilitas cadangan devisa menjadi pendukung utama arah pasar. Selain itu, sentimen global dari potensi pemangkasan suku bunga The Fed juga turut memperkuat optimisme investor.

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyampaikan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga tetap menjadi sentimen dominan meskipun pemerintahan AS telah ditutup selama tiga hari. Di pasar global, indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi, sedangkan Dow Jones naik sebesar 0,51 persen dan Nasdaq terkoreksi sebesar 0,28 persen. Investor masih menantikan data ketenagakerjaan AS dan pidato pejabat The Fed yang akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Di Asia, mayoritas bursa menguat mengikuti penguatan Wall Street, meski bursa China dan Korea Selatan tutup karena libur nasional. Di pasar domestik, IHSG ditutup menguat sebesar 0,6 persen pada akhir pekan lalu, meski investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 140 miliar. Saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA menjadi yang paling banyak dilepas.

Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, memprediksi tren kenaikan IHSG akan terus berlanjut setelah sebelumnya ditutup di level 8.118,30. Namun, ia juga menyoroti adanya potensi koreksi jangka pendek jika data ekonomi tidak sesuai ekspektasi atau jika pidato The Fed bernada hawkish.

Kondisi Ekonomi Indonesia yang Memperkuat Optimisme Pasar

Kondisi fundamental ekonomi Indonesia turut memperkuat optimisme pasar. Inflasi September tercatat sebesar 2,65 persen secara tahunan dan masih berada dalam target Bank Indonesia. Sektor manufaktur juga tetap ekspansif dengan indeks PMI di level 50,4. Selain itu, pemerintah menambah stimulus hampir 2 miliar dolar AS untuk Natal dan Tahun Baru, sehingga total stimulus fiskal tahun ini mencapai 4,5 miliar dolar AS.

Momentum positif ini juga didukung oleh lonjakan surplus neraca perdagangan yang mencapai 5,49 miliar dolar AS pada Agustus. Kondisi tersebut memberi ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap kuat hingga akhir tahun. Di sisi eksternal, peluang The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai 96,2 persen. Sementara di China, pemerintah menyiapkan paket stimulus senilai 500 miliar yuan guna menopang konsumsi dan proyek infrastruktur.

Perkembangan Pasar Obligasi dan Prediksi Teknis

Dari pasar obligasi, Amir Dalimunthe, Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas, memperkirakan permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah tetap tinggi. "Yield SBN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,24–6,43 persen," ujarnya.

Imam menambahkan, pekan ini pelaku pasar akan menyoroti sejumlah data penting seperti cadangan devisa, penjualan ritel, serta penjualan kendaraan bermotor. Data tersebut akan memberi gambaran seberapa kuat konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Secara teknikal, IHSG masih berpotensi memperpanjang reli selama tetap bertahan di atas level support 8.080, dengan target resisten di kisaran 8.150–8.200. Investor disarankan untuk mencermati saham-saham yang diuntungkan oleh kondisi ekonomi domestik seperti ASII, JSMR, dan ICBP, serta obligasi seri FR0100 yang berpotensi menarik saat suku bunga mulai turun.

Dengan kombinasi faktor ekonomi domestik yang solid, stimulus fiskal yang berlanjut, dan sinyal pelonggaran kebijakan moneter global, pasar melihat peluang kuat bagi IHSG untuk menembus level baru dan menjaga momentum penguatannya hingga akhir tahun.

0

Posting Komentar