P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Mengatasi Banyaknya Tips Parenting di Media Sosial

Featured Image

Momen Kehidupan yang Menjadi Sorotan Global

Bayangkan sebuah situasi: seorang anak kecil berada di ruang publik, memasukkan tanah ke dalam mulutnya sambil berlari-larian meniru perilaku seekor anjing di tengah tempat pembuangan sisa makanan. Orang tuanya, yang terlihat lelah, membiarkannya berbuat sesuka hati. Momen singkat dan pribadi ini kemudian direkam oleh ponsel seorang yang tidak dikenal dan diunggah ke platform media sosial. Ini segera akan mengubah kejadian biasa menjadi sorotan global. Dalam waktu singkat, video tersebut menjadi viral.

Respons dari masyarakat yang muncul—termasuk kemarahan, penilaian, dan cemoohan—mengungkapkan lebih dari sekadar pandangan tentang cara pengasuhan. Insiden ini menunjukkan kegelisahan bersama kita terkait norma-norma sosial, pengendalian, dan ketakutan akan kegagalan dalam menjalankan peran yang paling mendasar, yaitu sebagai orangtua.

Pengawasan Digital yang Mengubah Peran Orang Tua

Praktik parenting shaming di zaman digital ini bukan sekadar perilaku aneh dari massa, melainkan sebuah indikasi dari kondisi sistemik yang sedang berkembang. Kondisi ini timbul akibat dari perpaduan tiga kekuatan utama: struktur pengawasan total dari "Panopticon Digital" yang memaksa kita untuk selalu tampil, runtuhnya narasi besar tentang pengasuhan yang menciptakan kekosongan makna yang kemudian diisi oleh "hiperrealitas" kesempurnaan, serta kurangnya empati yang melekat pada bentuk komunikasi modern kita.

Filsuf Michel Foucault dalam karya terkenalnya, Discipline and Punish (1975), menjelaskan gagasan tentang Panopticon: sebuah bentuk arsitektur penjara di mana narapidana tidak pernah tahu kapan mereka berada di bawah pengawasan dari menara pusat. Akibatnya, mereka menginternalisasi pengawasan ini dan mulai mengontrol perilaku mereka sendiri. Media sosial berfungsi sebagai Panopticon digital kita, seperti yang dibahas dalam analisis berjudul Michel Foucault, Panopticism, and Social Media (2018).

Algoritma yang tidak terpampang dan tatapan kolektif dari jaringan sosial kita bertindak sebagai menara pusatnya. Berbeda dengan penjara yang diungkapkan Foucault, kita secara sukarela memilih untuk terlibat dan menjadi baik tahanan maupun penjaga. Kekuasaan tidak hanya beroperasi melalui hukuman yang jelas, seperti perundungan atau pengungkapan data pribadi (doxing), tetapi juga lewat tekanan psikologis yang lebih halus: perbandingan sosial yang tak pernah berhenti, dorongan untuk mematuhi norma digital, dan ketergantungan pada validasi yang diperoleh dari "suka" serta komentar.

Di sini, pengasuhan berubah menjadi semacam pertunjukan. Kesadaran akan pengawasan yang konstan memaksa orang tua untuk melakukan pengaturan diri. Mereka mulai menyensor diri mereka sendiri, hanya menunjukkan momen yang dianggap pantas untuk dibagikan di Instagram dan menyembunyikan kekacauan, keraguan, serta kelelahan yang merupakan bagian nyata dari perjalanan menjadi orang tua.

Krisis Narasi: Runtuhnya Nasihat Turun-temurun

Dalam tulisannya yang berjudul The Postmodern Condition (1979), filsuf Jean-François Lyotard mendefinisikan kondisi pascamodern sebagai sikap skeptis terhadap metanarasi—kejatuhan dari narasi besar dan universal yang memberikan makna pada budaya, termasuk kearifan pengasuhan tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nasihat yang telah disampaikan oleh nenek kini kehilangan kredibilitasnya di hadapan ribuan blog, studi ilmiah, dan pengaruh dari para influencer parenting. Dalam kekosongan makna ini, filsuf Jean Baudrillard mengemukakan ide mengenai simulacra dan hiperrealitas dalam bukunya yang berjudul Simulacra and Simulation (1981). Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai cermin kehidupan pengasuhan; ia juga membentuk realitas baru yang bahkan tampak lebih nyata dibandingkan kenyataan itu sendiri, yang dikenal sebagai hiperrealitas.

Konsep "Orang Tua Hiperreal" dapat dipahami sebagai sebuah simulakrum: sebuah komposisi dari gambaran-gambaran sempurna, dapur yang selalu tampak rapi, serta anak-anak yang berperilaku kreatif tanpa tantrum. Ini adalah "peta yang mendahului wilayahnya"; sebuah ideal yang lahir dari model-model digital, bukan melalui pengalaman nyata.

Penghakiman muncul ketika orang tua di dunia nyata—yang dihadapkan pada segala kerumitan dan ketidaksempurnaan—dinilai berdasarkan standar simulasi yang tidak mungkin dipenuhi ini. Beban ini menjadi semakin berat bagi orang tua dari anak-anak dengan perkembangan atipikal. Realitas mereka jelas tidak cocok dengan narasi hiperreal, sementara perilaku atipikal anak sering kali disalahpahami sebagai kegagalan moral dari pihak orang tua, memperburuk stres pengasuhan yang sudah ada.

Kerentanan Sebagai Kekuatan Kolektif

Dalam bukunya yang berjudul Reclaiming Conversation (2015), Sherry Turkle, seorang peneliti di MIT, memberikan peringatan bahwa kita telah "mengorbankan percakapan demi koneksi belaka." Komunikasi yang bersifat digital, dengan kecepatannya dan kurangnya isyarat non-verbal, lebih mendorong reaksi cepat daripada pemikiran yang mendalam, yang menghasilkan apa yang ia sebut "kesenjangan empati" (empathy gap). Meskipun kita terhubung, pemahaman kita terhadap satu sama lain tidaklah mendalam.

Inilah saatnya penelitian Bren Brown mengenai rasa malu (shame) dan kerentanan (vulnerability) dalam bukunya Daring Greatly (2012) menjadi sangat relevan. Brown mengungkapkan bahwa "kita cenderung menghakimi orang di bidang di mana kita rentan terhadap rasa malu." Dengan mengkritik pilihan pengasuhan orang lain, kita tanpa sadar berupaya meyakinkan diri kita sendiri bahwa apa yang kita lakukan itu benar, melindungi diri kita dari ketakutan akan kegagalan.

Kelompok penilai secara online bukanlah sekumpulan monster, tetapi individu-individu yang merasa cemas dan ketakutan, yang menggunakan kemarahan sebagai tameng terhadap kerentanan mereka. Menurut Brown, solusi untuk hal ini tidaklah dengan memperkuat pertahanan, tetapi dengan mengakui dan menerima kerentanan. "Kerentanan bukan tentang menang atau kalah; itu adalah tentang memiliki keberanian untuk menunjukkan diri kita seutuhnya ketika kita tidak dapat mengendalikan apa yang akan terjadi."

Empati merupakan penawar bagi rasa malu, dan hal ini hanya bisa berkembang dalam lingkungan yang menghargai kerentanan. Jarak yang dihasilkan oleh dunia digital menciptakan apa yang disebut Turkle sebagai "Efek Goldilocks" dalam bukunya Alone Together (2011): kita cukup dekat untuk menghakimi, namun cukup jauh untuk tidak merasakan efek emosional dari kata-kata yang kita ucapkan. Kita menjadi kritikus yang duduk di "kursi yang nyaman," terlindung dari kekacauan nyata dalam masyarakat.

Merancang Ulang Ekosistem Digital Kita

Saran seperti "abaikan saja para pembenci" terlalu naif. Masalah ini bersifat sistemik, sehingga solusinya juga harus sistemik, sejalan dengan pendekatan Psikologi Komunitas yang berfokus pada perubahan lingkungan sosial.

Pertama, kita memerlukan Literasi Digital Kritis untuk Keluarga. Ini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan aplikasi, melainkan membangun ketahanan emosional dan kesadaran etis. Program ini harus mengubah keluarga dari konsumen pasif menjadi navigator digital yang kritis dan berdaya.

Kedua, kita harus Menuntut Desain Platform yang Humanis. Platform saat ini didesain untuk memaksimalkan keterlibatan dengan mengorbankan kesejahteraan. Kita perlu mengadvokasi perubahan desain: algoritma yang memprioritaskan koneksi bermakna, fitur yang mendorong refleksi, dan moderasi yang lebih kuat untuk melawan pelecehan.

Ketiga, kita perlu Membangun "Desa" Digital yang Suportif. Dengan prinsip Psikologi Komunitas, kita dapat secara sengaja menciptakan ruang online yang aman, di mana norma komunikasi suportif—empati, mendengarkan tanpa menghakimi, dan saling memberdayakan—menjadi landasannya.

0

Posting Komentar