P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Pemprov Lampung Siap Ciptakan Sejarah dengan Mushaf Al-Qur'an Berbasis Budaya "Sang Bumi Ruwa Jurai"

Featured Image

Mushaf Lampung – Sang Bumi Ruwa Jurai: Karya Budaya dan Agama yang Menyatukan Identitas Lokal

Pemerintah Provinsi Lampung melalui dukungan penuhnya terhadap proyek penulisan Mushaf Al-Qur’an dengan nuansa budaya khas Lampung, mencatat langkah bersejarah dalam dunia kebudayaan dan keagamaan. Proyek ini digagas oleh Perkumpulan Kaligrafer Lampung Indonesia (Perkazi) dan diberi nama “Mushaf Lampung – Sang Bumi Ruwa Jurai”. Karya monumental ini menjadi simbol penghormatan terhadap kearifan lokal dan nilai-nilai keislaman.

Dukungan resmi dari Pemprov Lampung disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, yang mewakili Gubernur Lampung. Dukungan ini diberikan saat menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran Perkazi bersama Plt. Kanwil Kemenag Lampung dan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut, Marindo menegaskan bahwa Pemprov akan memberikan dukungan menyeluruh baik dari sisi koordinasi, budaya, maupun fasilitas agar karya ini benar-benar dapat terwujud dan menjadi kebanggaan daerah.

“Kami bangga dan mengapresiasi desain Mushaf Lampung ini. Karya ini bukan sekadar penulisan ayat suci, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal Lampung. Kami juga akan mengajak para budayawan dan tokoh agama untuk berperan aktif agar mushaf ini benar-benar merepresentasikan identitas budaya Lampung,” ujarnya.

Desain Unik dan Makna Mendalam

Mushaf Lampung dirancang dengan konsep unik dan penuh makna. Setiap dua juz Al-Qur’an akan mengangkat unsur budaya khas dari setiap kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Desain iluminasi atau hiasan mushaf akan dipenuhi simbol-simbol tradisional seperti siger (mahkota adat), pucuk rebung, pohon hayat, tapis Lampung, dan perahu khas Lampung yang melambangkan perjalanan spiritual dan persatuan dua adat besar Lampung, yakni Pepadun dan Saibatin.

Proyek ini tidak hanya menjadi karya kaligrafi Islam yang megah, tetapi juga diharapkan mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan kekayaan budaya daerah. Penulisan mushaf ini akan melibatkan kaligrafer terbaik dari seluruh wilayah Lampung, menciptakan kolaborasi antara seniman, ulama, akademisi, dan budayawan dalam satu proyek spiritual dan kultural yang monumental.

Tujuan Utama dan Harapan Masa Depan

Ketua Perkazi Lampung, Zuhdan Naufali, menjelaskan bahwa tujuan utama penulisan Mushaf Lampung bukan hanya menciptakan karya seni, tetapi juga menguatkan peradaban Islam yang berakar pada nilai-nilai lokal. “Mushaf ini bukan sekadar bacaan suci, tetapi juga warisan peradaban. Ia menyatukan keindahan seni kaligrafi, nilai keislaman, dan kebanggaan atas identitas budaya Lampung. Inilah persembahan kami untuk bangsa dan umat,” katanya dengan penuh semangat.

Dukungan juga datang dari tokoh budaya Lampung, Anshori Djausal, yang menilai proyek ini sebagai terobosan penting dalam upaya pelestarian budaya dan penguatan spiritual masyarakat. “Jika Menara Siger menjadi simbol kebanggaan fisik Lampung, maka Mushaf Lampung akan menjadi ikon spiritual baru yang mengangkat citra Lampung di mata nasional dan internasional. Mushaf ini bisa menjadi destinasi wisata religi yang menginspirasi masyarakat untuk lebih mencintai Al-Qur’an,” ujarnya.

Dimensi Pendidikan dan Wisata Religi

Selain nilai estetika dan spiritual, program Mushaf Lampung memiliki dimensi pendidikan yang kuat. Karya ini akan menjadi bahan pembelajaran di sekolah, madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi Islam di Lampung. Mushaf ini juga akan diterbitkan dalam berbagai versi, mulai dari versi standar, edisi terjemahan bahasa Lampung, hingga versi digital yang bisa diakses oleh masyarakat luas melalui platform daring.

Sejarah mencatat bahwa Lampung memiliki tradisi panjang dalam penjagaan dan penyalinan Al-Qur’an. Beberapa naskah mushaf tua dari abad ke-18 masih tersimpan di Museum Lampung. Oleh karena itu, penulisan Mushaf Lampung modern ini dianggap sebagai kelanjutan dari jejak sejarah tersebut, membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan peradaban Islam di Bumi Ruwa Jurai.

Sinergi Antara Budaya dan Agama

Dalam kesempatan itu, turut hadir sejumlah tokoh penting seperti Plt. Kepala Kanwil Kemenag Lampung Erwinto, akademisi Prof. Arsyad Sobby K., serta tokoh budaya A. Moeloek dan A. Mukhozin. Dari pihak pemerintah, Sekdaprov Marindo didampingi Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Lampung, Yuri Agustina Primasari.

Pemprov Lampung berharap Mushaf Lampung tidak hanya menjadi karya seni kaligrafi monumental, tetapi juga menjadi simbol persatuan, kebanggaan, dan kecintaan masyarakat Lampung terhadap nilai-nilai keagamaan dan budaya. “Inilah wujud nyata sinergi antara agama dan budaya. Kami ingin Lampung dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena ketinggian budayanya dalam menjaga nilai spiritual Islam,” tutup Marindo.

0

Posting Komentar