P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Survei: Gen Z Paham Dampak Perubahan Iklim

Featured Image

Kesadaran Generasi Z terhadap Dampak Perubahan Iklim

Survei yang dilakukan oleh Climate Rangers terhadap 382 responden dari Generasi Z menunjukkan bahwa generasi muda semakin menyadari dampak perubahan iklim. Meski begitu, sebagian besar masih melihat krisis ini sebagai cuaca ekstrem. Dampak dari krisis iklim tidak hanya berupa cuaca buruk, tetapi juga mencakup kesehatan fisik dan mental, ketahanan pangan, serta kerusakan infrastruktur akibat bencana seperti banjir dan rob.

Febriani Nainggolan, Campaign & Communication Staff Climate Rangers, menjelaskan bahwa riset tersebut mengamati responden yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Hasilnya menunjukkan bahwa generasi muda memahami bahwa apa yang mereka alami saat ini adalah dampak dari perubahan iklim. Namun, 95,5 persen dari responden masih melihat krisis iklim sebagai cuaca ekstrem.

Menurut Febriani, anak-anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami dampak krisis iklim yang jauh lebih parah dibandingkan generasi kakek mereka. Mereka akan menghadapi gelombang panas tujuh kali lebih banyak, kekeringan tiga kali lebih sering, dan banjir besar dua kali lebih intens.

Selain itu, survei juga menemukan bahwa 62,4 persen responden merasa bahwa partisipasi orang muda dalam isu lingkungan masih dianggap sebagai tokenisme atau formalitas tanpa makna. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran meningkat, partisipasi aktif masih belum sepenuhnya diwujudkan.

Isu Lingkungan yang Menarik Perhatian Masyarakat

Dian Irawati, salah satu pendiri lembaga riset Kawula17, mengungkapkan hasil riset yang dilakukan terhadap 404 responden. Dalam riset tersebut, dua isu utama yang disoroti oleh masyarakat adalah inefisiensi pengelolaan sampah (33 persen) dan kerusakan lingkungan akibat tambang (32 persen).

Dian menjelaskan bahwa peningkatan perhatian terhadap isu-isu ini didorong oleh maraknya publikasi tentang hal-hal yang merusak alam Indonesia. Contohnya adalah kasus di Raja Ampat yang memicu kampanye #SaveRajaAmpat, serta isu perampasan hutan adat (26 persen).

Tren ini menunjukkan bahwa kesadaran publik terhadap pentingnya perlindungan ekosistem dan keadilan lingkungan di Indonesia semakin kuat dalam dua tahun terakhir.

Tingkat Aktivisme Anak Muda yang Meningkat

Survei terpisah yang dilakukan oleh Kawula17 terhadap 1.342 responden muda menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat aktivisme. Sebanyak 42 persen responden tergolong peserta atau participant, sedangkan 35 persen adalah aktivis atau activist.

Ini menunjukkan bahwa semakin banyak anak muda yang tertarik dan terlibat dalam isu lingkungan, Hak Asasi Manusia (HAM), gender, dan antikorupsi. Partisipasi aktif dalam isu-isu sosial dan lingkungan menjadi indikator bahwa generasi muda semakin sadar akan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Kebutuhan untuk Tindakan Nyata

Meskipun kesadaran generasi muda terhadap perubahan iklim meningkat, diperlukan tindakan nyata dari pemerintah dan masyarakat luas untuk menghadapi tantangan ini. Partisipasi yang lebih aktif dan strategis diperlukan agar isu-isu lingkungan bisa ditangani secara efektif dan berkelanjutan.

Anak muda, dengan kesadaran dan partisipasi yang meningkat, menjadi kunci dalam menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, organisasi swasta, dan masyarakat, potensi generasi muda dapat dimaksimalkan untuk menciptakan perubahan positif.

0

Posting Komentar