Penjelasan PBNU Mengenai Kepemimpinan dan Isu Negatif
Dalam situasi yang sedang memanas akhir-akhir ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya memberikan pernyataan resmi untuk menenangkan suasana di internal organisasi. Wakil Ketua Umum PBNU, Amin Said Husni, mengajak seluruh jajaran pengurus untuk tetap fokus pada tugas-tugas organisasi tanpa terpengaruh oleh isu-isu negatif yang beredar.
Pernyataan ini tidak lepas dari arahan langsung dari Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Menurut Amin, Gus Yahya menekankan pentingnya menjaga energi organisasi agar tidak terbuang percuma hanya untuk merespons isu-isu yang justru memperkeruh keadaan. Ia menilai bahwa hal tersebut bisa mengganggu proses kerja yang telah direncanakan.
Mandat Muktamar sebagai Dasar Kepemimpinan
Amin Said Husni juga memberikan penjelasan terkait aturan kepemimpinan dalam PBNU. Menurutnya, posisi Ketua Umum dan Rais ‘Aam PBNU dilindungi oleh mandat tertinggi, yaitu Muktamar. Oleh karena itu, tidak ada forum atau mekanisme lain yang memiliki legitimasi untuk mencabut mandat tersebut, kecuali melalui mekanisme resmi Muktamar Luar Biasa (MLB).
Ia menegaskan bahwa rapat atau permusyawaratan apa pun selain Muktamar tidak dapat digunakan untuk memberhentikan Rais ‘Aam maupun Ketua Umum. Hal ini ditegaskan dengan tegas dalam AD/ART PBNU, yang menyebutkan bahwa MLB memiliki syarat ketat dan tidak bisa digelar sepihak oleh Rais ‘Aam tanpa melibatkan Ketua Umum.
Perluas Pemahaman Mengenai Aturan Organisasi
Amin juga berusaha meluruskan persepsi yang mungkin salah di kalangan publik dan warga NU. Ia menekankan bahwa setiap pengambilan keputusan dalam organisasi harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Bahkan, Rais ‘Aam tidak bisa menggelar MLB sendiri tanpa adanya keterlibatan Ketua Umum. Ini menunjukkan bahwa semua prosedur sudah diatur secara jelas dalam AD/ART.
Fokus pada Program Kerja dan Keberlanjutan
Sisa masa jabatan pengurus hingga Januari 2027 menjadi waktu yang sangat penting untuk menuntaskan program-program strategis yang telah dirancang. Amin mengajak semua pihak untuk berpikir jernih dan tidak menghabiskan energi untuk bertikai. Menurutnya, sisa waktu ini harus dimanfaatkan dengan baik demi kemaslahatan umat dan keberlanjutan organisasi.
Ia menyarankan agar seluruh elemen NU lebih fokus pada upaya islah, seperti yang diajarkan oleh para ulama. Menurut Amin, memperpanjang konflik hanya akan membawa kerugian bagi seluruh anggota organisasi.
Aspek Spiritual dalam Pertikaian
Selain aspek organisasi, Amin juga menyentil aspek spiritual dari pertikaian di tubuh NU. Ia mengingatkan bahwa siapa pun yang sengaja mengobarkan api permusuhan di dalam rumah besar kaum santri akan mendapatkan konsekuensi buruk. Dalam tradisi pesantren, hal ini bisa saja membuat seseorang "kena kualat".
Harapan untuk Kembali Bersatu
Sebagai penutup, Amin berharap seluruh elemen NU bisa menahan diri, menjaga marwah organisasi, dan kembali bersatu dalam menyelesaikan amanah hingga akhir masa jabatan nanti. Ia menilai bahwa kebersamaan dan kesadaran kolektif adalah kunci utama untuk menjaga stabilitas dan kemajuan PBNU.



Posting Komentar