
Perjalanan Guru dalam Kehidupan yang Penuh Tantangan
Seorang guru memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik 25 hingga 30 siswa di dalam kelas. Namun, menjaga suasana kelas tetap kondusif bisa menjadi tantangan berat. Terkadang, siswa sulit memperhatikan dan menyimak materi yang disampaikan. Mereka cenderung pasif saat diberi kesempatan bertanya, bahkan terlihat hemat dalam memberikan pendapat. Respons mereka sering kali tidak cukup untuk mencerminkan pemikiran yang matang.
Trik jitu dalam mengajar kadang hanya menimbulkan kekecewaan. Keluar dari kelas dengan perasaan tidak puas, marah, dan emosional bisa menjadi pengalaman yang menyakitkan. Jalan keluar dari ruang kelas dengan langkah tertahan dan rasa frustrasi bisa membuat seseorang merasa seperti melihat wajah-wajah pucat yang mengisyaratkan kegelapan. Meskipun begitu, esok atau lusa masih ada peluang untuk mengajar dengan sukses lagi dan lagi.
Guru harus menghadapi realitas yang sering kali tidak mudah. Lingkungan kelas dengan siswa yang apatis bukanlah hal baru. Namun, jalan yang lurus dalam eksekusi tidak selalu bijak. Emosi yang meningkat dan kesabaran yang semakin berkurang bisa menjadi tanda-tanda bahwa usia mulai memengaruhi daya tahan mental. Tetap waras adalah kunci utama dalam situasi seperti ini.
Media sosial kini menjadi tempat yang sangat dinamis dan penuh tantangan bagi seorang guru. Peran mereka sering kali diintip dan diawasi oleh orang tua yang tidak sepenuhnya memahami tugas seorang guru. Banyak dari mereka yang hanya ingin menggantikan peran mereka di rumah. Media sosial menjadi ruang pengadilan tanpa ampun bagi guru, di mana informasi yang minim dan tidak terverifikasi sering kali digunakan sebagai dasar penilaian.
Keengganan untuk mencari informasi dari sumber yang otentik membuat kebenaran yang sebenarnya tidak sempat dikonsumsi. Keadaan ini membuat banyak guru merasa tidak didukung oleh sistem. Pemangku kebijakan sering kali hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Akibatnya, guru sering kali disalahkan tanpa pembelaan, bahkan terjatuh dan terpuruk dalam berbagai masalah.
Kritikan dan cibiran di media sosial sering kali muncul dari netizen yang merasa benar sesuai dengan pandangan mereka sendiri. Guru terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh orang tua, sehingga kepercayaan dan kredibilitas yang telah dibangun selama puluhan tahun bisa hilang dalam sekejap.
Hari-hari dan tahun-tahun berlalu, tubuh guru semakin rapuh dan lemah. Ruang kelas yang terletak di gedung megah di seberang warung kopi menjadi tempat di mana harapan masa depan ditanam. Dengan sentuhan pesan-pesan ilahi, guru berusaha membangun mental dan sikap siswa. Setiap langkah dan gerakan dilakukan dengan penuh perhatian dan kecintaan.
Sering kali, seorang guru hanya bisa menyeruput kopi pancung dan menyalakan rokok kretek plat dinas. Hembusan asapnya mengepul seperti knalpot 2 tak, mengingatkannya pada ucapan gurunya dulu. Ia pernah berdiri dengan gagah dan anggun sambil menggenggam pengeras suara dan berkata:
“Bapak Ibu guru, coba dengarkan apapun yang terjadi di dalam kelas Bapak Ibu, itu adalah salah kita. Kita yang punya kendali atas kelas itu. Jangan salahkan mereka, tapi lihatlah kedalam diri kita.”
Ia melanjutkan, “Percayalah Bapak Ibu, jika kita merawat dan melayani murid-murid kita, insyallah anak-anak kita akan dirawat dan dilayani oleh guru-guru di sekolahnya.”
Selamat Hari Guru untuk semua. Tetaplah menyala meski sistem sering kali tidak stabil. Murid kadang tampak apatis, tetapi tetaplah berjuang untuk mengubah dunia. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua, semoga Allah SWT memberikan percepatan kesembuhan dan keberkahan rezeki yang tidak pernah putus. Aamiin.



Posting Komentar