
Santri Ponpes Asy Syuhada Lakukan Pawai untuk Perayaan Hari Santri Nasional 2025
Pada hari Jumat, tanggal 24 Oktober 2025, sejumlah besar santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Asy Syuhada di Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, turun ke jalan raya. Mereka melakukan pawai yang bertujuan untuk merayakan Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08.00 Wita dan berlangsung dengan antusiasme tinggi.
Rute pawai dimulai dari Gedung 4 Ponpes Asy Syuhada yang terletak di kawasan Jalan Taqwa. Para santri kemudian melintasi Jalan Pancasila melewati Balairung Tuntung Lewat. Rutenya dilanjutkan melewati Polres Tala, Pasar Parabola (Jalan Datu Daim), PLN Ranting Pelaihari, lalu menuju kawasan Pancapan, Jalan Samudera, dan akhirnya kembali ke Gedung 4.
Selama perjalanan, pawai tersebut menarik perhatian warga setempat. Banyak dari mereka yang spontan mendekat ke jalanan dan mengabadikan momen melalui ponsel masing-masing. Untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas, polisi ditempatkan di beberapa titik persimpangan. Pengguna jalan juga tetap dapat melanjutkan perjalanan tanpa gangguan.
Para santri yang ikut dalam pawai mengenakan atribut beragam. Beberapa di antaranya membawa banner dan properti lain yang berisi narasi tentang HSN 2025. Kehadiran mereka menunjukkan semangat dan komitmen untuk memperingati hari penting bagi kalangan santri.
Ketua Pondok Pesantren Asy Syuhada Pelaihari, KH Ahmad Syarifuddin Noor, menyampaikan bahwa jumlah santri yang ikut pawai mencapai 1.300 orang. Selain itu, 150 ustadz dan ustadzah juga turut serta dalam kegiatan ini. Ia mengungkapkan rasa syukur atas cuaca yang baik sehingga pawai bisa berjalan lancar.
Ia menilai bahwa momentum HSN 2025 menjadi bukti bahwa pesantren telah diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya persetujuan presiden untuk membentuk direktorat jenderal khusus yang membidangi pondok pesantren. Menurutnya, ini merupakan penghargaan yang luar biasa dari pemerintah pusat kepada pesantren dan santrinya.
Harapan besar disampaikan agar dukungan pemerintah pusat juga sampai ke tingkat daerah dan kabupaten. Dengan sinergi yang kuat, pesantren dapat sejajar dengan lembaga pendidikan umum. Syarifuddin juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi bangsa, terutama pengaruh globalisasi yang menggerus budaya dan kearifan Nusantara.
Contohnya, aksi demo pelajar terhadap kepala sekolah karena dianggap tidak baik. Hal ini berbeda dengan cara santri yang membela ustadz atau kiai mereka ketika muncul narasi negatif. Menurutnya, ini menjadi tolok ukur nyata pendidikan di pesantren yang mengedepankan kesantunan.
Pondok pesantren, kata dia, menjadi garda terdepan dalam menangkal pengaruh globalisasi saat ini. Harapan selanjutnya adalah agar pemerintah daerah lebih perhatian kepada pesantren, bahkan lebih dari pemerintahan sebelumnya. Dengan demikian, pesantren dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.



Posting Komentar