Perjalanan AKBP Fauzan Arianto dari kegagalan ke kesuksesan sebagai Wakapolresta Balikpapan

Perjalanan AKBP Fauzan Arianto dari kegagalan ke kesuksesan sebagai Wakapolresta Balikpapan

Perjalanan Hidup AKBP Fauzan Arianto: Dari Kegagalan ke Kesuksesan

Di sebuah wartel sederhana di Kota Solo pada 2001, seorang pemuda berusia 19 tahun tak kuasa menahan air mata. Dengan suara bergetar, ia menghubungi sang ibu dari telepon umum. "Ma, izin enggak lulus." Kalimat singkat itu menjadi penanda salah satu titik terendah dalam hidupnya. Saat itu, ia baru saja gagal dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol), setelah sebelumnya juga gagal mewujudkan cita-cita menjadi prajurit TNI Angkatan Laut.

Dua puluh lima tahun berselang, pemuda itu kini duduk di kursi Wakapolresta Balikpapan dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP). Namanya AKBP Fauzan Arianto, sosok yang perjalanan hidupnya membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Awal Kehidupan dan Pendidikan

Fauzan lahir di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada 7 November 1982. Ia tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pegawai Bank BRI, sedangkan sang ibu merupakan guru sekolah dasar. "Kami bukan dari keluarga berada, orang-orang biasa saja," kenangnya.

Meski hidup sederhana, kedua orang tuanya menanamkan pentingnya pendidikan sejak dini. Bahkan sebelum berusia lima tahun, Fauzan sudah lancar membaca sehingga langsung masuk SD lebih cepat dibanding anak seusianya. Sejak kecil, prestasinya nyaris tak pernah putus. Ia selalu menjadi juara kelas sejak SD hingga SMA.

Tidak hanya unggul secara akademik, Fauzan juga aktif berolahraga, mulai dari sepak bola, basket hingga tenis. Orang tuanya selalu berusaha memenuhi kebutuhan yang mendukung prestasi sang anak. "Apapun yang saya pengen asal terkait mau mencari prestasi pasti dipenuhin. Saya suka tenis dibeliin raket tenis. Saya suka basket dibeliin bola basket," ujarnya.

Mimpi yang Tak Terwujud

Usai lulus SMA di usia 16 tahun, Fauzan bermimpi menjadi perwira TNI Angkatan Laut. Sambil menunggu seleksi, ia kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat melalui jalur PMDK. Seluruh tahapan seleksi TNI AL dilaluinya dengan optimistis hingga tahap akhir. Namun hasil pengumuman menyatakan dirinya tidak lulus.

"Enggak lulus, sedih, nangis lah ya. Waktu itu saya masih naik angkot," kenangnya. Dalam perjalanan pulang itulah takdir mulai berubah. Di depan Polrestabes Banjarmasin, matanya menangkap sebuah spanduk pembukaan pendaftaran Taruna Akpol. "Keren juga nih jadi Taruna Akademi Kepolisian. Padahal saya enggak ngerti juga apa itu Taruna Akademi Kepolisian," katanya sambil tersenyum.

Keputusan spontan itu membawanya mengikuti seleksi Akpol tahun 2001. Dukungan datang dari Kapolres Barito Kuala saat itu, AKBP Sukri Pasaribu, yang bahkan menjemputnya ke rumah dan memberikan berbagai pembinaan sebelum tes. Sayangnya, keberuntungan belum berpihak. Fauzan kembali gagal.

Kegagalan yang Mengubah Jalannya Hidup

Perjalanan pulang menjadi salah satu kenangan paling emosional dalam hidupnya. Karena tak memiliki biaya membeli tiket pesawat, ia menempuh perjalanan menggunakan kereta api dan kapal laut. Saat singgah di Solo, ia masuk ke sebuah wartel untuk menghubungi orang tuanya. "Sambil menangis tersedu-sedu bilang, 'Ma, izin enggak lulus,'" tuturnya.

Di ujung telepon, ibunya hanya menjawab singkat namun menenangkan. "Sabar, sabar." Ada pula kisah sederhana yang masih membekas di ingatannya. Usai menelepon, ia bertanya kepada penjaga wartel mengenai biaya telepon. "Selikur ewu, Mas," jawab penjaga. Sebagai anak Kalimantan yang tak memahami Bahasa Jawa, Fauzan hanya terdiam sebelum kembali bertanya dengan polos. "Berapa itu selikur ewu?" Momen kecil itu menjadi simbol betapa asingnya ia di tanah rantau, sekaligus menggambarkan kondisi seorang pemuda yang sedang berjuang mengejar mimpi.

Titik Balik dan Kesuksesan

Setahun kemudian, Fauzan mencoba kembali mengikuti seleksi Akpol. Persiapannya dilakukan diam-diam. Bahkan teman-teman kuliah tidak mengetahui ia kembali mendaftar. Namun nasib kembali mengujinya. Saat datang ke Polda Kalimantan Selatan untuk mengikuti tes, ia baru mengetahui seleksi sebenarnya sudah berlangsung sehari sebelumnya akibat salah memahami jadwal. Ia hanya bisa terduduk lemas di depan kantor Direktorat Personel.

Selama sekitar satu setengah jam, Fauzan memikirkan nasibnya yang terasa kembali hancur. Tak lama kemudian, lima anggota Brimob datang untuk mengikuti tes susulan. Melihat Fauzan masih duduk di luar, panitia akhirnya mengizinkannya ikut bergabung. "Ya sudah, kamu ikut juga nih di sini. Berenam."

Kesempatan kedua itu menjadi titik balik hidupnya. Ia lolos seleksi tingkat daerah, berangkat ke Semarang, hingga akhirnya diterima sebagai Taruna Akpol. "Alhamdulillah di daerah lulus, di Semarangnya lulus," ujarnya.

Karier dan Komitmen

Selepas lulus dari Akpol, Fauzan mengawali karier sebagai perwira Polri dari berbagai penugasan di Kalimantan Selatan. Ia pernah menjabat Kapolsek Batu Ampar, Kapolsek Takisung, hingga Kasatlantas di Polres Tabalong dan Tanah Laut. Pengalaman lain yang paling membekas adalah ketika bertugas di Divisi Humas Polri menangani media sosial dan berbagai produk kreatif.

Menurutnya, komunikasi merupakan salah satu kunci utama dalam pelayanan kepolisian. "Media itu mitra strategis kita," katanya. Kini sebagai Wakapolresta Balikpapan, Fauzan mengaku ingin membawa pendekatan yang lebih humanis kepada masyarakat. Baginya, menjaga keamanan tidak bisa dilakukan hanya oleh kepolisian semata. "Mengelola kamtibmas ini tidak bisa hanya merupakan tanggung jawab Polri semata. Kita butuh dukungan dari berbagai macam stakeholder," tegasnya.

Ia juga berkomitmen agar jajaran Polresta Balikpapan selalu hadir di tengah masyarakat. "Kami akan mencoba selalu dekat dengan masyarakat, turun dengan masyarakat, selalu berinteraksi dengan masyarakat," ujarnya.

Bagi Fauzan, setiap kegagalan yang pernah dialaminya justru membentuk karakter dan empati yang dimilikinya saat ini. Tangis di wartel Solo yang dahulu terasa begitu menyakitkan kini menjadi pengingat bahwa jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. "Memang namanya kalau rezeki ya enggak ke mana," katanya.

Kisah hidup AKBP Fauzan Arianto menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Dari seorang pemuda yang menangis karena dua kali gagal mengejar cita-cita, ia akhirnya berhasil mengemban amanah sebagai Wakapolresta Balikpapan, membawa pengalaman hidupnya untuk melayani masyarakat dengan lebih dekat dan penuh empati.

Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART