Abu vulkanik bahaya isinya serpihan kaca tajam, ini tips jaga kesehatan jika tubuh terpapar
Ringkasan Berita:
- Jangan anggap remeh Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Epidemiolog mengingatkan bahaya kesehatan akibat abu vulkanik karena prtikel di dalamnya cukup berbahaya.
- Ini tips saat tubuh terpapar abu vulkanik.
BROKERJA.COM, JAKARTA- Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terasa sejak Sabtu (5/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) hari ini. Pakar mengingatkan bahayanya.
Hujan abu vulkanik dilaporkan telah menjangkau sejumlah wilayah di Provinsi Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.
Epidemiolog, dan ahli kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengingatkan bahaya kesehatan akibat abu vulkanik.
Dicky Budiman dalam keterangan kepada BROKERJA.COMmengatakan hal yang perlu diwaspadai dari erupsi Gunung Anak Krakatau adalah abu vulkanik.
Abu vulkanik ini karakteristiknya jauh berbeda jauh dengan debu biasa. Partikel di dalamnya cukup berbahaya bagi organ tubuh.
"Abu vulkanik berbeda dengan abu atau debu biasa, karena mengandung silika seperti serpihan kaca tajam yang berbahaya merusak mata, hidung mulut," kata Dicky Budiman.
Mengutip berbagai artikel kesehatan, material abu dapat menyebar hingga jarak yang jauh dari letusan karena kondisi iklim daerah tersebut.
Partikel abu vulkanik berdiameter kurang dari 2 milimeter (mm). Partikel ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan gelas vulkanik yang terasa mirip butiran pasir hingga bubuk halus.
Beberapa gas berbahaya juga bisa terbawa dalam abu vulkanik, seperti karbon dioksida (CO2) dan sulfur dioksida (SO2) yang bahkan dapat menyebabkan hujan asam.
Apa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan?
Abu vulkanik bersifat keras, abrasif (mengikis), dan tidak larut dalam air. Hal inilah yang menyebabkan abu dari letusan gunung berapi ini berdampak buruk bila terhirup atau masuk ke dalam tubuh.
Lindungi dengan Masker
Menurut Dicky masyarakat wajib melakukan perlidungan diri saat abu vulkanik mulai terasa.
Bagi mereka yang tinggal dengan jarak sangat dekat dengan kawasan yang erupsi, maka disarankan tidak banyak beraktivitas di luar ruangan.
Menutup jendela dan pintu dengan rapat.
"Jendela dan pintu tutup rapat, sesekali saja dibuka saat kondisi urgen dan harus beraktivitas di luar ruangan," saran Dicky.
Penggunaan masker masih dinilai menjadi cara perlindungan diri yang ampuh dari efek abu vulkanik.
"Kenakan makser N95 tutup mulut dan hidungkarena silika yang tajam," imbuh Dicky.
Tidak hanya masker, paparan abu vulkanik tidak hanya mengancam pernapasan, tetapi juga mata dan kulit.
Dicky juga mengingatkan agar melindungi mata saat abu vulkanik mulai terasa.
"Gunakan kacamata pelindung (goggle)," katanya.
Selain itu, dianjurkan menggunakan dan pakaian tertutup demi melindungi kulit dari paparan abu vulkanik.
Juga yang tak kalah penting, makanan harus tertutup rapat.
Jangan Kucek Mata Jika Terkena Abu Vulkanik
Lantas bagaimana jika terlanjur terkena abu vulkanik?
Ia mengingatkan agar bijak bertindak saat abu vulkanik sudah masuk ke organ tubuh.
"Ketika ada paparan bilas dengan air jangan sekali kali menggosok (mengucek) mata atau mengibas pakaian," saran Dicky.
Ia menyarankan agar mata atau organ lain segera dibilas dengan air bersih.
Hal utama lagi adalah tidak panik.
"Selalu waspada menGikuti berita resmi, jangan panik, ketika ada keluhan sesak nafas dan gangguan di mata segera ke fasilitas kesehatan," pungkas Dicky.
Patuhi Batas Jarak Aman
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) terus menunjukkan peningkatan signifikan, Sabtu (5/9/2026).
Selain semburan lava pijar yang terpantau secara visual, hujan abu vulkanik dilaporkan telah menjangkau sejumlah wilayah di Provinsi Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.
Warga di Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Pringsewu melaporkan adanya paparan abu tipis sejak Sabtu malam.
Kondisi serupa juga dirasakan warga di sekitar Selat Sunda, khususnya wilayah Banten. Bahkan, sejumlah warga di Sukabumi, Jawa Barat, mengaku turut terkena dampak abu vulkanik dari gunung api aktif tersebut.
"Lumayan parah di Kalianda, abu vulkanik dari siang kemarin, teras, mobil, jalanan semua penuh debu," ungkap Hany, warga Kalianda, Lampung Selatan, saat dikonformasi, Minggu (6/9/2026).
Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi erupsi menerus masih berlangsung hingga saat ini dengan fenomena semburan erupsi terlihat jelas secara terus menerus.
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menjelaskan ancaman utama saat ini berada di area sekitar puncak kawah.
“Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai dengan lontaran batu pijar,” ungkap Rita Susilawati dalam pemaparannya, Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan pengamatan visual melalui CCTV, terekam semburan lava pijar yang menyerupai pancaran api atau lava fountain. Fenomena ini memicu gemuruh yang terdengar hingga pos pengamatan.
Rita menegaskan masyarakat harus benar-benar mematuhi batas jarak aman yang telah ditetapkan otoritas terkait.
“Harap memperhatikan radius 3 km tersebut yang memang berbahaya bisa diakibatkan oleh lontaran lava pijarnya,” tegas Rita.
Terkait laporan warga yang mulai terpapar abu di Lampung hingga Jawa Barat, PVMBG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama jika terjadi eskalasi hujan abu.
Dalam rekomendasi teknisnya, PVMBG meminta warga untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Meskipun sebaran abu mulai meluas, masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak bertanggung jawab.
“Masyarakat di wilayah provinsi Banten dan Lampung diharapkan tetap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan dari BPBD setempat,” tambahnya.
Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Status Level III (Siaga). Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan di wilayah terdampak abu, disarankan untuk menggunakan masker dan pelindung mata guna menghindari gangguan kesehatan.
Posting Komentar