Gunung Anak Krakatau erupsi, BPBD Bandar Lampung imbau warga waspadai abu vulkanik

Ringkasan Berita:
- Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali erupsi di Selat Sunda. BPBD Kota Bandar Lampung mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap potensi abu vulkanik yang terbawa angin.
- Warga diminta menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi aktivitas jika terjadi hujan abu.
- Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah.
BROKERJA.COM, Bandar Lampung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda yang masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) malam.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung sebagai satu kali kejadian.
Erupsi tersebut mulai tercatat pada pukul 12.18 WIB dan berlangsung terus-menerus tanpa jeda hingga Sabtu malam.
Kepala BPBD Kota Bandar Lampung, Idham Basyar Syahputra, mengatakan masyarakat perlu mewaspadai potensi sebaran abu vulkanik yang dapat terbawa angin hingga ke wilayah permukiman.
Menurutnya, abu vulkanik dapat mengganggu kualitas udara, mengurangi jarak pandang, serta berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama mereka yang memiliki gangguan pernapasan.
"Abu vulkanik dapat terbawa angin dan mengganggu kualitas udara, jarak pandang, serta kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan," ujar Idham, Sabtu (5/9/2026).
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik. Warga juga dianjurkan menggunakan pelindung mata apabila kondisi udara mulai berdebu.
Jika terjadi hujan abu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah. Pintu, jendela, dan ventilasi juga sebaiknya segera ditutup apabila abu vulkanik mulai masuk ke dalam rumah.
"Jika terjadi hujan abu, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan segera menutup pintu, jendela, serta ventilasi apabila abu vulkanik mulai masuk," katanya.
BPBD juga mengingatkan warga untuk melindungi makanan dan sumber air dari paparan abu vulkanik agar tidak terkontaminasi.
Bagi masyarakat yang berkendara, Idham meminta agar meningkatkan kewaspadaan. Sebab, abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin.
Idham juga meminta masyarakat tidak panik dan tetap mengikuti perkembangan informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi.
"Masyarakat kami imbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta instansi terkait mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau," jelasnya.
BPBD Kota Bandar Lampung akan terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan kondisi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan mengacu pada informasi resmi dari pemerintah maupun instansi terkait.
Untuk informasi kebencanaan, masyarakat dapat menghubungi BPBD Kota Bandar Lampung melalui Call Center 117, telepon 0721-6016451, atau WhatsApp 0821-8099-2105.
Erupsi Gunung Anak Krakatau Masih Berlangsung
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) malam.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, aktivitas erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung sebagai satu kali kejadian.
Erupsi tersebut mulai tercatat pada pukul 12.18 WIB dan berlangsung terus-menerus tanpa jeda hingga Sabtu malam.
"Erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung satu kali kejadian karena berlangsung terus-menerus tanpa jeda sejak pukul 12.18 WIB," kata Suwarno, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Suwarno, erupsi baru akan dicatat sebagai kejadian berbeda apabila letusan sebelumnya telah berhenti sepenuhnya, kemudian terdapat jeda sebelum kembali terjadi letusan.
"Kalau erupsi sebelumnya sudah berhenti total, kemudian ada jeda dan terjadi letusan lagi, itu baru dihitung sebagai kejadian berikutnya," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan petugas, kolom abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 150 meter di atas puncak gunung.
Material abu tersebut terbawa angin ke arah barat laut.
"Kolom abu kurang lebih 150 meter dan terbawa angin ke arah barat laut," ujarnya.
Sebaran abu vulkanik dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah di Lampung, di antaranya kawasan Tanjung Karang, Bandar Lampung, hingga Tanggamus.
Warga di sejumlah permukiman di wilayah terdampak juga melaporkan adanya paparan debu vulkanik yang diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kondisi ini menunjukkan material erupsi GAK tidak hanya terpantau di sekitar kawasan gunung, tetapi juga mulai terbawa angin hingga ke sejumlah wilayah daratan Lampung.
Petugas pemantauan masih terus mengamati perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk perubahan tinggi kolom abu dan arah sebaran material vulkanik.
Abu Mulai Turun di Bandar Lampung Sejak Salat Isya
Dampak sebaran debu vulkanik juga dirasakan warga di Bandar Lampung.
Rumah Wahyu Hidayat di kawasan Jalan Gunung Krakatau, Kelurahan Kupang Kota, Kecamatan Teluk Betung Utara (TBU), Bandar Lampung, turut terdampak debu berwarna kecokelatan pada Sabtu (5/9/2026) malam.
Wahyu mengatakan, debu tersebut mulai turun ke kawasan permukiman sekitar waktu Salat Isya, atau sekitar pukul 19.30 hingga 20.00 WIB.
Sebelumnya, saat memasuki waktu Magrib, kondisi lingkungan di sekitar rumah warga masih terpantau normal.
"Debu mulai dirasakan di rumah. Di Jalan Gunung Krakatau, Kelurahan Kupang Kota, Kecamatan Teluk Betung Utara," kata Wahyu yang juga Humas BPBD Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, debu yang turun berwarna kecokelatan dan cukup mudah terlihat setelah menempel di berbagai permukaan. Debu tersebut tampak menempel pada kendaraan, mulai dari sepeda motor hingga mobil.
Ia mengatakan, sebaran debu terasa cukup merata di lingkungan permukiman dan kawasan sekitar.
Kemunculan debu tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung. Namun, asal debu tersebut masih perlu dipastikan melalui pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait.
"Untuk asal debunya masih perlu dipastikan. Kami akan koordinasikan dengan pihak terkait untuk mengetahui apakah memang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau," ujarnya.
Warga diimbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila debu vulkanik kembali turun atau terjadi perubahan kondisi udara.
Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker sebagai langkah antisipasi apabila sebaran abu vulkanik semakin meluas.
(BROKERJA.COM/ Dominius Desmantri Barus)
Posting Komentar