Sidang cerai perdana, tangis Sara Wijayanto justru pecah bukan untuk Demian

Ringkasan Berita:
  • Sara Wijayanto menjalani sidang cerai perdana dengan Demian Aditya di PA Jakarta Selatan pada Kamis (24/9/2026).
  • Alih-alih meratapi perpisahannya, emosi dan kesedihan Sara justru tumpah saat membahas perannya di film The Doll Ghawiyah.
  • Film ini akan mengupas masa lalu Ibu Laras yang rapuh, labil, dan penuh ketakutan sebelum menerima anugerah supranaturalnya.

BROKERJA.COM, JAKARTA — Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan menjadi saksi babak baru kehidupan Sara Wijayanto.

Tepat pada Kamis (24/9/2026), aktris sekaligus YouTuber berkemampuan indigo ini hadir untuk menjalani sidang cerai perdananya dengan sang suami, Demian Aditya.

Namun, ada yang mengejutkan di balik raut wajahnya.

Di tengah badai rumah tangga yang tengah berada di ujung tanduk, luapan emosi dan kesedihan Sara justru bukan ditujukan untuk perpisahannya dengan sang ilusionis.

Air matanya disiapkan untuk sosok lain yang sangat melekat dalam jiwanya: Ibu Laras.

Rupanya, Sara tengah diliputi perasaan emosional yang mendalam terkait kembalinya ia dalam semesta horor Hitmaker Studios lewat film The Doll Ghawiyah.

Sebelumnya, wanita berusia 47 tahun ini memendam ketakutan bahwa kisah karakter ikonisnya itu telah berakhir.

"Waktu di The Doll 3 kan Bu Laras cuma jadi cameo aja. Sejujurnya aku sempat sedih, kayak, 'Yah, udah habis ya ceritanya.' Karena karakter Bu Laras ini sangat melekat di hati aku pribadi," ungkap Sara saat ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, beberapa hari sebelum sidang.

Karena itu, ketika tawaran untuk kembali menghidupkan Ibu Laras datang, Sara tidak berpikir dua kali.

"Pas dikasih tahu ada film ini, aku senang banget. Langsung, 'Oke, I'm in!'. Iyalah, siapa lagi yang mau jadi Bu Laras, kan?" ucapnya seraya tersenyum lega.

Mengupas Sisi Rapuh Sang Paranormal

Lebih dari sekadar sekuel, The Doll Ghawiyah akan membawa penonton mundur ke masa lalu, menyelami origin story atau titik mula seorang Ibu Laras.

Kakak dari aktris Adinia Wirasty ini membeberkan bahwa karakternya belum menjadi sosok paranormal tangguh yang selama ini dikenal publik.

Di film ini, Ibu Laras adalah wanita yang labil, dipenuhi ketakutan, dan belum bisa berdamai dengan kelebihan indera keenamnya—sebuah fase yang diakui Sara sangat berkaca pada kehidupan nyata dirinya di masa lalu.

"Perbedaannya, di film ini perjalanannya Bu Laras itu belum jadi Bu Laras yang kita kenal. Dia masih takut, belum bisa menerima dirinya, persis kayak Sara dulu. Di film ini Bu Laras belum praktik, enggak kayak di film pertama, kedua, atau ketiga," jelasnya rinci.

Tuntutan peran kali ini memaksa Sara untuk meruntuhkan tembok pertahanan Ibu Laras.

Jika di film-film sebelumnya sang karakter dituntut tampil tanpa celah, kini ia harus memperlihatkan sisi paling manusianya.

"Kalau dulu waktu syuting Sabrina, Bu Laras keluar air mata sedikit langsung di-cut sama Pak Rocky. Bu Laras enggak boleh nangis, berkaca-kaca boleh tapi air mata enggak boleh netes karena harus kelihatan kuat. Nah, di sini sisi humanisnya harus keluar. Ada ragu dan takutnya," tutup Sara, menegaskan dedikasinya pada peran di tengah kemelut kehidupan pribadinya.

Baca berita lain di Google News

Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART