
Kebangkitan Dompet Bitcoin Tertua yang Menghebohkan Pasar Kripto
Dunia kripto kembali dihebohkan oleh tindakan langka dari salah satu dompet Bitcoin tertua yang pernah tercatat. Setelah berada dalam keadaan tidak aktif selama 14 tahun, dompet tersebut tiba-tiba melakukan transfer sebesar 4.000 BTC, yang bernilai sekitar USD 442 juta atau setara dengan Rp 7,29 triliun. Kejadian ini terjadi pada hari Kamis (23/10) dan langsung menarik perhatian para analis dan pengamat pasar.
Aktivitas tersebut pertama kali diketahui melalui akun pemantau on-chain, Whale Alert. Mereka mengunggah informasi tentang dompet yang telah lama tidak aktif, menyatakan bahwa alamat tersebut memiliki 4.000 BTC senilai USD 442 juta. Pernyataan ini langsung memicu respons cepat di media sosial.
Data blockchain menunjukkan bahwa dompet dengan alamat 18eY9o dibuat pada 27 Juni 2011. Dalam transaksi terbarunya, dompet tersebut memindahkan 150 BTC ke alamat baru jenis P2WSH. Sementara sisanya, yaitu sekitar 3.849 BTC, tetap disimpan di alamat lama jenis P2PKH sebagai change address.
Pergerakan ini pertama kali dilacak oleh situs btcparser.com dan dianalisis oleh peneliti blockchain Sani dari timechainindex.com. Ia menjelaskan bahwa koin-koin tersebut berasal dari coinbase rewards, yaitu hadiah penambangan Bitcoin di masa awal. Menurut Sani, koin-koin tersebut ditambang sejak 15 April 2009, hanya tiga bulan setelah jaringan Bitcoin diluncurkan. Ia juga menegaskan bahwa hanya 150 BTC yang dikirim ke alamat baru, sementara sisanya kembali ke alamat lama. Tidak ada koin yang berasal dari wallet Patoshi.
Transfer sebagian kecil dari dompet lawas seperti ini sering menjadi perhatian para analis karena bisa menjadi indikasi aktivitas dari pemilik besar atau “whale kuno”. Banyak yang menduga bahwa langkah ini mungkin merupakan uji coba sebelum pergerakan dana dalam jumlah lebih besar.
Wallet baru yang menerima 150 BTC juga tidak diam lama. Dalam waktu singkat, dana tersebut berpindah ke beberapa alamat lain di jaringan blockchain. Sebagian besar dari 149,13 BTC kini tersimpan di alamat P2WSH baru yang lebih modern.
Analis menilai bahwa aktivitas dari dompet yang "tidur" sejak 2011 ini dapat memberi wawasan tentang distribusi kepemilikan awal Bitcoin yang selama ini tersembunyi. Meski belum ada tanda bahwa pemiliknya menjual aset tersebut, pergerakan ini cukup untuk mengguncang pasar dan memicu spekulasi di komunitas kripto.
Aksi dari wallet lawas seperti ini tidak hanya membangkitkan nostalgia masa awal Bitcoin, tetapi juga menunjukkan betapa besarnya nilai yang bisa terkumpul dari investasi jangka panjang di dunia kripto. Sebagai contoh, 4.000 BTC yang kini bernilai Rp 7,29 triliun hanya bernilai sekitar USD 67.724 (Rp 1,12 miliar) pada 2011, atau naik lebih dari 6.500 kali lipat dalam 14 tahun.
Bagi pelaku pasar, kebangkitan wallet "vintage" ini menjadi pengingat bahwa sebagian besar Bitcoin dari era awal masih tersimpan di tangan para pemegang jangka panjang yang nyaris tak tersentuh. Dan setiap kali mereka "bangun", pasar pun bergetar.



Posting Komentar