P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Jelajah Sejarah Cirebon: Dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi 2025

Jelajah Sejarah Cirebon: Dari Keraton Kasepuhan ke Gua Sunyaragi 2025

Pengalaman Menarik dalam Perjalanan Famtrip Wisata di Cirebon

Pagi yang cerah dan segar menjadi awal perjalanan rombongan yang terlibat dalam kegiatan Railways Unveiling Culture Familiarization Trip 2025. Rombongan ini terdiri dari para agen perjalanan wisata yang berpartisipasi dalam program yang difasilitasi oleh Asita bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Hari kedua perjalanan dimulai dengan suasana yang tenang dan penuh antusiasme.

Ketika matahari mulai naik, udara pagi di Cirebon terasa sejuk dan bercampur aroma laut yang menyegarkan. Bus yang membawa rombongan melintasi jalanan menuju Keraton Kasepuhan Cirebon, sebuah lokasi yang kaya akan sejarah dan budaya. Di sini, bangunan tua yang megah dengan dinding bata merah dan ornamen kayu jati serta porselen Tiongkok menunjukkan keindahan arsitektur kuno yang masih terawat.

Rombongan disambut oleh Ratu Alexandra Wuryaningrat, Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan (BPKK) Cirebon. Ia menjelaskan bahwa keraton ini memiliki sejarah panjang sejak abad ke-15, merupakan peninggalan dari Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa. Selama kunjungan, peserta diajak mengelilingi pendopo agung, museum pusaka, hingga halaman belakang yang menyimpan kereta kencana Singa Barong, simbol kebesaran Cirebon yang unik.

Singa Barong yang terpajang di halaman belakang memiliki ukiran yang sangat detail, menggambarkan bentuk-bentuk hewan seperti sayap burung, kepala naga, dan belalai gajah yang memegang senjata Trisula. Setiap elemen ukiran memiliki makna tersendiri, mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat setempat.

Perjalanan dilanjutkan ke Taman Wisata Gua Sunyaragi, sebuah kompleks batu kapur yang terletak di pinggiran kota. Nama Sunyaragi berasal dari kata sunyi dan ragi yang berarti “tempat menyepi untuk memperkuat raga dan jiwa”. Dulu, tempat ini digunakan oleh para bangsawan Keraton Cirebon sebagai tempat bertapa dan mencari ketenangan batin. Peserta mengunjungi beberapa gua seperti Goa Pengawal, Goa Simanyang, dan Mande Beling. Setiap ruangan memiliki kisahnya sendiri, termasuk ruang istirahat prajurit dan pos pengintai.

Di Batu Lawang, lokasi ketiga dalam perjalanan, rombongan harus menghadapi cuaca yang tidak menentu. Jalur menanjak membawa mereka ke kawasan perbukitan yang hijau dan sejuk. Namun, hujan yang turun membuat tangga batu licin dan kabut tipis menghalangi pandangan. Meski begitu, peserta tetap menikmati momen dengan duduk di gazebo sambil menikmati pemandangan yang indah.

Malam hari, rombongan melanjutkan acara dengan dinner dan sesi B2B Business Match. Para agen travel saling berdiskusi, berbagi kartu nama, dan mencari peluang kolaborasi untuk meningkatkan bisnis pariwisata.

Kunjungan ke Batik Trusmi

Keesokan harinya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Batik Trusmi, pusat industri batik terbesar di Cirebon. Lokasi ini berada sekitar lima kilometer dari pusat kota. Saat tiba, aroma kain baru dan pewarna alami tercium di udara. Pengrajin yang sudah bekerja puluhan tahun menunjukkan proses pembuatan batik yang khas, seperti motif mega mendung dan pola awan bergelombang biru.

Para peserta diajak mencoba membuat batik sendiri, mencelupkan kain ke pewarna alami, dan mengamati proses dari awal hingga akhir. Proses ini memberikan wawasan tentang bagaimana kain putih berubah menjadi karya seni yang penuh warna dan makna.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, menjelaskan bahwa kegiatan famtrip ini bertujuan untuk mempersiapkan destinasi wisata dan memasarkannya. "Ini tentunya mendorong para pengelola destinasi untuk melengkapi amenitinya dan juga dalam pemasaran," ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar kereta api dapat menjadi daya tarik wisata di Jawa Barat. "Kereta api memiliki dua fungsi, sebagai akses dan daya tarik. Mereka akan tertarik dengan sejarah kereta api di Jawa Barat," tambahnya.

Diharapkan, menjelang akhir tahun, paket wisata yang disiapkan oleh agen travel akan memperluas pengunjung ke berbagai destinasi di Jabar. Dengan dukungan Asita dan kolaborasi antar agen travel, hubungan B2B akan semakin kuat dan saling menguntungkan.

Posting Komentar

Posting Komentar