P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Sejarah Sang Surosowan, Nama Kakek Sultan Hasanuddin Terabadikan di Keraton

Featured Image

Sejarah Banten dan Peran Sang Surosowan

Banten memiliki sejarah yang kaya dan panjang, yang sering kali dikaitkan dengan kejayaan Islam serta kekuatan pasukan istananya. Salah satu tokoh penting dalam sejarah Banten adalah Sunan Gunung Jati, yang tidak hanya bertindak sebagai penyebar ajaran Islam tetapi juga sebagai penggagas berdirinya Kesultanan Banten. Namun, sebelum masa kejayaan Islam, Banten telah memiliki peradaban yang sudah lama berkembang.

Sejarah Banten dapat dibagi menjadi beberapa masa, seperti masa Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara, masa Kerajaan Sunda dan Pajajaran, serta masa Kesultanan Islam dan VOC Belanda. Salah satu bagian yang jarang diceritakan adalah sejarah Banten pada masa Pajajaran. Pada masa itu, mayoritas masyarakat masih memeluk ajaran leluhur, namun Banten termasuk wilayah bawahan Pajajaran yang dipimpin oleh Sang Surosowan.

Sang Surosowan adalah putra dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Kentring Manik Mayang Sunda. Ia adalah adik dari Rahiyang Surawisesa, yang kemudian menjadi penerus tahta di Pakuan Pajajaran. Dengan posisi kakaknya sebagai raja, Sang Surosowan diberikan kekuasaan atas wilayah Banten dan dinobatkan sebagai penguasa dengan gelar Prabu Pucuk Umun. Ibukota Banten saat itu berada di wilayah yang kini disebut Banten Selatan.

Selama pemerintahan Sang Surosowan, Banten terbilang aman, damai, dan sejahtera. Hal ini didukung oleh kekuatan besar Pajajaran yang menopangnya. Selain itu, ia juga memiliki beberapa anak, dua di antaranya yang dikenal adalah Raden Suranggana dan Nyimas Kawunganten. Raden Suranggana menggantikan Sang Surosowan sebagai penguasa Banten Girang, sementara Nyimas Kawunganten menikahi Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Pada masa pemerintahan Sang Surosowan, agama Islam mulai masuk ke wilayah Pajajaran, termasuk Banten. Sebelum kedatangan Sunan Gunung Jati, ada seorang ulama bernama Syekh Ali Rahmatullah yang datang dari negeri seberang dan menyebarkan ajaran Islam. Sang Surosowan bertindak adil dan bijaksana terhadap pemeluk agama baru ini, sehingga Islam cepat mendapat simpati dari masyarakat.

Setelah Syekh Ali Rahmatullah wafat, kehadiran Syarif Hidayatullah di Banten membawa harapan baru bagi masyarakat. Sang Surosowan menyambut baik kehadiran Sunan Gunung Jati, karena ia mengetahui bahwa Syarif Hidayatullah adalah keponakan dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Masyarakat Banten merespons baik kehadiran Sunan Gunung Jati, yang akhirnya dinikahkan dengan Nyimas Kawunganten.

Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki putra bernama Sabakingking, yang kemudian diberi nama Maulana Hasanuddin oleh Sunan Gunung Jati. Sang Surosowan sangat bahagia dengan kelahiran cucunya dan selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersamanya. Ia juga memberi tahu kepada khalayak umum bahwa Hasanuddin akan menjadi penerusnya sebagai penguasa Banten.

Maulana Hasanuddin tumbuh dalam kebahagiaan di bawah pengasuhan Sang Surosowan. Ia diajarkan ilmu tata kelola negara hingga teknik berperang. Setelah Sang Surosowan wafat, kedudukannya digantikan oleh anak laki-lakinya, Sang Suranggana. Pada masa ini, terjadi konflik antara Banten dan Cirebon, yang akhirnya menyebabkan Banten kalah dan dikuasai oleh Cirebon.

Ketika Banten di bawah kekuasaan Cirebon, Maulana Hasanuddin didaulat menjadi Adipati Banten. Di bawah pemerintahannya, ibukota Banten dipindahkan ke wilayah pesisir, yang lebih strategis untuk pertahanan. Nama Keraton Banten baru diberi nama Surosowan, mengambil inspirasi dari kakeknya yang dikenal bijaksana dan penuh cinta kasih. Keraton ini didedikasikan sebagai penghormatan terhadap Sang Surosowan, yang akan selalu dikenang sebagai Raja Banten yang adil dan penuh kasih.

0

Posting Komentar