P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Belajar dari Kebakaran Kilang Dumai, Pemerintah Diminta Perbaiki Sistem Migas

Belajar dari Kebakaran Kilang Dumai, Pemerintah Diminta Perbaiki Sistem Migas

Kebakaran Kilang Dumai: Tanda Bahaya untuk Ketahanan Energi Nasional

Kilang Dumai, salah satu kilang minyak terbesar yang dimiliki oleh PT. Pertamina (Persero), menjadi pusat perhatian setelah mengalami kebakaran pada Rabu (1/10/2025) sekitar pukul 21.00 WIB. Lokasinya di Dumai, Provinsi Riau, kilang ini memainkan peran penting dalam pengolahan minyak mentah menjadi berbagai produk turunan seperti bensin, solar, avtur, minyak tanah, dan produk petrokimia lainnya. Sebagai salah satu pusat pengolahan energi utama di wilayah Sumatra, kebakaran ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi nasional.

Kebakaran tersebut dimulai dengan ledakan yang menyebabkan kobaran api yang cepat menyebar. Meskipun tim pemadam internal Pertamina langsung bertindak, api berhasil dipadamkan sekitar pukul 23.20 WIB setelah lebih dari tiga jam upaya pemadaman. Dalam insiden ini, sekitar 100 meter persegi di bagian atas bangunan kilang terdampak, namun tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Namun, warga sekitar mengalami trauma akibat ledakan dan kobaran api.

Lurah Tanjung Palas, Untung Effendi, menyampaikan bahwa sekitar 20 warga dilarikan ke RSUD Dumai setelah kejadian. Meski saat ini mereka sudah pulih dan kembali ke rumah masing-masing, pihaknya tetap akan memantau kondisi masyarakat pasca-kejadian. Ia juga meminta Pertamina membuat posko kesehatan dan pengaduan untuk membantu warga yang masih membutuhkan bantuan medis.

Riwayat Kebakaran di Kilang Dumai

Tidak hanya kali ini, Kilang Dumai memiliki catatan kelam terkait kebakaran dan ledakan. Sejak berdiri, beberapa kali insiden serupa terjadi. Pada 2008, sebuah tangki berkapasitas 5.000 kiloliter terbakar. Setahun kemudian, pipa bertekanan tinggi di kilang ini meledak dan terbakar. Peristiwa paling memilukan terjadi pada 2014, ketika ledakan menewaskan beberapa orang. Di tahun 2023, insiden ledakan gas compressor memicu api yang melukai sembilan pekerja. Dan kini, pada tahun 2025, kebakaran kembali terjadi.

Tanggapan dari Tokoh Politik

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, menilai kejadian ini bukan sekadar insiden teknis, tetapi menunjukkan lemahnya infrastruktur perminyakan Indonesia. Ia mendesak pemerintah melakukan audit komprehensif dan peningkatan keamanan terhadap seluruh kilang eksisting, terutama yang sudah berusia tua seperti Dumai, Balongan, dan Cilacap. Mulyanto menekankan pentingnya penggantian peralatan rentan, evaluasi sistem proteksi kebakaran, dan penerapan manajemen risiko yang lebih ketat.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam empat bulan terakhir, hampir selalu terjadi insiden kebakaran di fasilitas kilang. Padahal, di Pertamina sudah dibentuk unit setingkat direktur yang khusus menangani manajemen risiko. "Aspek ini harus dievaluasi secara mendalam," ujarnya.

Langkah Percepatan Pembangunan Kilang Baru

Selain langkah teknis, Mulyanto juga menyoroti pentingnya percepatan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan pembangunan kilang baru untuk memperkuat pasokan domestik. Modernisasi kilang Balikpapan, Cilacap, dan Balongan harus dituntaskan sesuai jadwal. Ia menambahkan, proyek kilang Tuban juga perlu segera diselesaikan agar tidak bernasib sama seperti proyek kilang Bontang yang terhenti.

Pembangunan kilang baru dengan tambahan kapasitas minimal 500 ribu barel per hari dapat dilakukan melalui kemitraan dengan swasta dan investor asing. "Jangan terkatung-katung seperti sekarang ini. Salah-salah bisa ambyar pembangunannya seperti kilang Bontang," ucap Mulyanto.

Pendanaan dan Strategi Jangka Panjang

Terkait pendanaan, ia menilai pemerintah dapat memanfaatkan potensi pembiayaan dari Danantara, lembaga investasi nasional. Tanpa langkah-langkah konkret memperkuat kilang lama, mempercepat pembangunan kilang baru, dan mengamankan cadangan BBM nasional, negara akan terus rentan terhadap krisis energi dan defisit migas yang menggerus APBN.

Posting Komentar

Posting Komentar