P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

BRIN: Hujan Jakarta Terkontaminasi Mikroplastik, Ini Dampaknya!

Featured Image

Penelitian BRIN Mengungkap Kandungan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berukuran sangat kecil yang bersifat beracun. Temuan ini menunjukkan bahwa polusi plastik tidak hanya terjadi di permukaan bumi, tetapi juga mencapai lapisan atmosfer. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science Direct pada Januari 2022.

Penelitian yang Dilakukan Selama 12 Bulan

Penelitian ini berlangsung selama 12 bulan dan dilakukan dengan metode pengumpulan data menggunakan alat seperti rain gauge dan ombrometer. Data kemudian dianalisis menggunakan teknologi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk mengidentifikasi jenis polimer plastik. Hasilnya menunjukkan bahwa laju deposisi mikroplastik di Jakarta mencapai tiga hingga 40 partikel per meter persegi per hari dengan rata-rata sekitar 15 partikel. Hal ini menunjukkan bahwa setiap tetes air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik.

Apa Itu Mikroplastik?

Mikroplastik adalah partikel plastik yang ukurannya lebih kecil dari sebutir pasir. Partikel ini bisa berasal dari pecahan plastik, serat sintetis, atau butiran mikro yang digunakan dalam produk kosmetik. Karena ukurannya yang sangat kecil, mikroplastik sulit terdeteksi dan hampir mustahil dibersihkan dari lingkungan. Selain mencemari alam, mikroplastik juga berdampak serius bagi kesehatan manusia. Partikel ini bisa masuk ke tubuh melalui udara yang dihirup, makanan atau minuman yang tertelan, bahkan terserap lewat kulit.

Bahaya Mikroplastik bagi Kesehatan

Paparan terhadap mikroplastik dapat menyebabkan efek kronis yang berlangsung lama. Beberapa risiko yang patut diwaspadai antara lain:

  • Peradangan kronis pada saluran pernapasan dan sistem pencernaan.
  • Gangguan hormon endokrin akibat paparan bahan kimia seperti Bisphenol A (BPA) yang terdapat dalam plastik.
  • Risiko penyakit kardiovaskular dan stres oksidatif karena akumulasi jangka panjang.
  • Dampak terhadap sistem reproduksi seperti penurunan berat testis janin, kerusakan sel epitel reproduksi, serta penurunan jumlah sperma.
  • Berperan sebagai pembawa logam berat dan mikroba patogen, yang memperparah efek buruk terhadap kesehatan manusia serta mempercepat penyebaran berbagai kontaminan lainnya.

Riset yang Dimulai Sejak Tahun 2018

Penelitian tentang keberadaan mikroplastik dalam air hujan sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2018. Namun, temuan tersebut baru menarik perhatian publik secara luas setelah hasilnya dipublikasikan secara terbuka dan dikonfirmasi adanya partikel plastik yang ikut turun bersama air hujan di wilayah Jakarta. Tim peneliti BRIN telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sejak awal. Pihak DLH merespons dengan cepat dan mendorong adanya penelitian lanjutan, baik di wilayah perairan Jakarta maupun pada air hujan.

Tanggapan Pemprov DKI Jakarta

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menilai temuan BRIN sebagai peringatan penting terhadap kondisi lingkungan di ibu kota. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebut hasil penelitian tersebut menjadi tanda bahaya yang menunjukkan bahwa polusi plastik kini telah mencapai lapisan atmosfer Jakarta. Sebagai langkah tindak lanjut, Pemprov DKI bekerja sama dengan BRIN memperluas pemantauan mikroplastik di udara dan air hujan melalui sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI), sebuah platform berbasis data yang digunakan untuk memantau kualitas lingkungan.

Data yang diperoleh dari sistem ini akan dijadikan dasar dalam merumuskan kebijakan pengendalian polusi plastik di Jakarta. Pemerintah daerah juga memperkuat upaya pengurangan sampah plastik dari sumbernya melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan, serta program Jakstrada Persampahan yang menargetkan pengurangan timbulan sampah sebesar 30 persen langsung dari sumbernya.

Selain memperkuat sistem pemantauan dan regulasi, DLH DKI juga menyiapkan kampanye publik bertajuk ‘Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi’ untuk mendorong masyarakat agar lebih peduli dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan menghindari pembakaran limbah sembarangan. Asep menekankan bahwa kondisi langit Jakarta saat ini seolah menjadi pengingat agar masyarakat lebih bijak dalam mengelola bumi. Ia menambahkan bahwa perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan polusi plastik.

Posting Komentar

Posting Komentar