P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

730 Satelit Starlink Jatuh ke Bumi Tahun Ini, Ini Penyebabnya

Featured Image

Perkiraan Jumlah Satelit Starlink yang Jatuh ke Bumi Setiap Hari

Pensiunan astrofisikawan Harvard, Jonathan McDowell, memperkirakan bahwa setidaknya satu hingga dua satelit Starlink jatuh kembali ke Bumi setiap harinya. Dengan demikian, dalam setahun, sekitar 730 satelit orbit rendah Starlink diperkirakan menghantam atmosfer bumi akibat berbagai faktor. Saat ini, terdapat lebih dari 8.000 satelit Starlink di langit, dan jumlah tersebut terus meningkat. Satelit-satelit ini merupakan bagian dari inisiatif perusahaan transportasi luar angkasa SpaceX.

Selain Starlink, semakin banyak perusahaan dan negara lain yang juga menyebarkan satelit, sehingga jumlah satelit di orbit Bumi meningkat pesat. Banyak dari satelit tersebut berada di orbit rendah Bumi, yang mencakup ketinggian hingga 2.000 km di atas permukaan planet kita. Umur rata-rata satelit orbit rendah Bumi biasanya sekitar 5 hingga 7 tahun.

Jonathan memperkirakan bahwa dalam waktu dekat, hingga lima satelit akan memasuki orbit setiap hari. Dengan semua konstelasi yang sedang dikembangkan, ia memperkirakan sekitar 30.000 satelit orbit rendah Bumi seperti Starlink, Amazon Kuiper, dan lainnya, serta mungkin 20.000 satelit lagi pada ketinggian 1.000 kilometer dari sistem China.

Risiko Kecelakaan Antariksa dan Sindrom Kessler

Sindrom Kessler adalah skenario di mana kepadatan objek di orbit rendah Bumi cukup tinggi sehingga tabrakan antar objek dapat menyebabkan serangkaian tabrakan beruntun. Setiap tabrakan menghasilkan puing-puing antariksa yang meningkatkan kemungkinan tabrakan selanjutnya.

Dengan peningkatan jumlah satelit di orbit Bumi, risiko ini semakin nyata. Meskipun tidak semua satelit jatuh dari orbit karena alasan yang sama, beberapa faktor seperti aktivitas matahari dan malfungsi teknis dapat memengaruhi jalur satelit.

Faktor Penyebab Satelit Jatuh ke Bumi

Salah satu faktor utama adalah aktivitas matahari yang tinggi. Badai matahari dapat memanaskan atmosfer atas Bumi, menyebabkannya 'mengembang'. Hal ini meningkatkan hambatan atmosfer, yang memperlambat satelit dan menyebabkan mereka kehilangan ketinggian. Pada awal 2022, badai matahari menghancurkan 40 satelit Starlink yang baru diluncurkan.

Selain itu, malfungsi teknis juga bisa menjadi penyebab. Misalnya, pada 12 Juli 2024, roket Falcon 9 mengalami kegagalan pada tahap kedua, menyebabkan 20 satelit Starlink berada di orbit yang salah. Hanya dua satelit yang berhasil bertahan, sementara sisanya jatuh kembali ke Bumi delapan hari setelah peluncuran.

Jumlah Satelit yang Jatuh dalam Lima Tahun Terakhir

Laporan menunjukkan bahwa lebih dari 500 satelit Starlink diketahui telah jatuh kembali ke Bumi dalam lima tahun terakhir, terutama akibat aktivitas Matahari dan perubahan atmosfer. Sejak tahun 2020 hingga 2024, tercatat sekitar 523 satelit Starlink mengalami "reentry" dan hancur di atmosfer. Meski sebagian besar terbakar habis sebelum mencapai permukaan, ada risiko kecil bahwa bagian-bagian tertentu tetap terjatuh.

Di Kanada, puing Starlink seberat 2,5 kilogram ditemukan di darat, menunjukkan bahwa meski sebagian besar terbakar, masih ada potensi ancaman terhadap keselamatan manusia.

Dampak Hancurnya Satelit terhadap Atmosfer Bumi

Pada 2023, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) merilis sebuah penelitian tentang stratosfer Bumi. Stratosfer, yang berada di atas 11 km dari permukaan bumi, mengandung partikel dengan logam eksotis. Partikel-partikel ini diduga berasal dari satelit dan pendorong roket bekas yang menguap saat memasuki atmosfer.

Peneliti menemukan partikel yang mengandung niobium dan hafnium, serta tembaga, lithium, dan aluminium dalam konsentrasi yang tinggi. Penggunaan logam-logam ini dalam paduan tahan panas menunjukkan bahwa industri penerbangan antariksa adalah sumber utamanya.

Partikel-partikel ini dapat menyerap dan memantulkan sinar matahari, serta menjadi permukaan untuk reaksi kimia perusak ozon. Selain itu, dampaknya terhadap atmosfer Bumi masih dalam penelitian lanjutan.

0

Posting Komentar