P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Harga Listrik di Timur 20 Kali Lebih Mahal, Ini Solusi Pemerintah

Featured Image

Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan di Wilayah Timur Indonesia

Pemerintah Indonesia sedang mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mengatasi masalah kenaikan harga listrik di wilayah timur. Salah satu bentuk EBT yang saat ini sedang dikembangkan adalah fotovoltaik, yang diharapkan mampu menurunkan biaya listrik secara signifikan.

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, biaya listrik berbasis diesel di kawasan timur Indonesia sangat tinggi. Harga listrik di sana bisa mencapai 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan wilayah Jawa. Hal ini menyebabkan beban subsidi yang besar bagi pemerintah, sehingga perlu segera dilakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel.

Untuk itu, pemerintah tengah mengembangkan sistem hybrid antara fotovoltaik dengan baterai. Sistem ini diharapkan mampu mendukung proses dedieselisasi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Dengan adanya sistem hybrid tersebut, harga listrik di wilayah timur dapat menjadi jauh lebih rendah.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah strategis untuk mempercepat transisi ke energi baru terbarukan dalam satu dekade ke depan. Fokus utama pengembangan EBT akan ditempatkan di kawasan Indonesia Timur. Langkah ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 62,5 gigawatt (GW), di mana 70% di antaranya berasal dari energi bersih.

Investasi dalam rencana ekspansi ini tidak hanya berasal dari pendanaan negara atau PLN, tetapi juga melibatkan partisipasi swasta. Sebanyak 70% investasi berasal dari Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik independen, yang merupakan mitra-mitra swasta.

Selain potensi tenaga surya, kawasan timur Indonesia juga memiliki intensitas radiasi matahari tertinggi, serta potensi besar untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pembangkit listrik ini bisa dikembangkan dalam skala kecil, menengah, maupun besar.

Dengan adanya potensi ini, pemerintah yakin bahwa akselerasi pengembangan EBT bisa dimulai dari kawasan timur Indonesia. Entitas seperti Danantara telah menyiapkan strategi investasi untuk berpartisipasi dalam program ini, baik melalui kemitraan strategis maupun investasi langsung.

Kolaborasi antara pemerintah dan pelaku swasta diharapkan mampu mempercepat realisasi proyek-proyek energi hijau di berbagai wilayah. Selain itu, kerja sama ini juga akan mendukung target bauran EBT nasional yang lebih ambisius dalam 10 tahun mendatang. Dengan pengembangan EBT yang lebih cepat, diharapkan Indonesia mampu menjawab tantangan energi di masa depan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kawasan timur.

Posting Komentar

Posting Komentar