P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Kematian Massal di Brasil: Operasi Polisi Lawan Narkoba di Rio Diperhatikan Dunia

Featured Image

Penyebaran Kematian Akibat Operasi Bersenjata di Rio de Janeiro

Penggerebekan besar-besaran yang dilakukan oleh aparat kepolisian di wilayah Rio de Janeiro, Brasil, telah menyebabkan peningkatan signifikan dalam jumlah korban jiwa. Data terbaru menunjukkan bahwa setidaknya 119 orang tewas dalam operasi tersebut, yang melibatkan jaringan kriminal Comando Vermelho. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan laporan awal yang mencatat sekitar 60 korban.

Laporan tambahan dari Kantor Pembela Umum Negara Bagian Rio bahkan mengungkapkan angka yang lebih tinggi, yaitu 132 korban jiwa. Dari total korban, sebanyak 115 orang dikenali sebagai tersangka anggota geng, sedangkan empat lainnya adalah petugas kepolisian yang turut gugur selama operasi. Pihak berwenang mengakui bahwa tingkat kematian yang tinggi sudah diprediksi sebelumnya, meskipun hasil akhirnya tidak diharapkan.

Tuduhan Pembunuhan dan Rasa Duka Warga

Operasi yang melibatkan sekitar 2.500 personel kepolisian dilaksanakan di kawasan Kompleks Penha dan Kompleks Alemao, yang dikenal sebagai pusat aktivitas narkotika. Setelah operasi berakhir, beberapa warga menuduh aparat melakukan pembunuhan ilegal. Laporan adanya korban yang ditembak dari belakang kepala dan tubuh menjadi isu utama.

Di jalan-jalan tempat jenazah warga dibiarkan tergeletak, suasana duka terlihat jelas. Para pelayat menyalakan lilin dan menuntut keadilan. Beberapa aktivis menilai operasi tersebut lebih mirip dengan pembantaian daripada tindakan penegakan hukum.

Reaksi Nasional dan Internasional

Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dikabarkan terkejut dan merasa ngeri setelah mengetahui jumlah korban yang sangat besar. Menurut Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski, operasi tersebut dilaksanakan tanpa sepengetahuan pemerintah federal. Kekhawatiran juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang melalui juru bicaranya menyerukan agar penggunaan kekuatan dalam operasi kepolisian tetap sesuai standar hukum hak asasi manusia internasional serta mendesak penyelidikan cepat dan transparan atas insiden tersebut.

Namun, Gubernur Negara Bagian Rio, Claudio Castro, menegaskan bahwa semua korban tewas adalah kriminal bersenjata dan bentrokan terjadi di area hutan yang jauh dari pemukiman warga. Castro menyebut bahwa “satu-satunya korban sebenarnya adalah petugas polisi.”

Operasi Militer dan Tuduhan ‘Narkoterorisme’

Operasi besar-besaran ini didukung oleh kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone tempur. Pihak berwenang menyebutkan bahwa kelompok kriminal menggunakan bus sebagai barikade serta drone bermuatan bahan peledak untuk menyerang polisi. Gubernur Castro melalui unggahan di platform X menggambarkan kejadian tersebut sebagai bentuk “narkoterorisme”, bukan tindak kejahatan biasa.

Kekerasan mematikan dalam operasi semacam ini bukan hal baru di Brasil. Sekitar 700 orang dilaporkan tewas sepanjang tahun 2024 akibat operasi kepolisian di Rio, dengan rata-rata dua korban per hari. Meski begitu, sejumlah organisasi hak asasi manusia mempertanyakan waktu pelaksanaan operasi besar-besaran tersebut, mengingat kota Rio sedang bersiap menjadi tuan rumah KTT C40 World Mayors Summit dan Earthshot Prize yang akan dihadiri Pangeran William.

Selain itu, Konferensi Iklim PBB COP30 dijadwalkan berlangsung di kota Belem pada November mendatang. Pemerintah Rio menyatakan tidak ada kaitan antara operasi ini dengan agenda internasional tersebut.

0

Posting Komentar