P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Investigasi Auriga dan Earthsight: Eropa Impor Kayu dari Hutan Indonesia yang Dirusak

Featured Image

Investigasi Mengungkap Rantai Pasok Kayu yang Terkait dengan Deforestasi di Kalimantan

Laporan terbaru yang dirilis oleh Earthsight dan Auriga Nusantara menunjukkan bahwa produk kayu yang masuk ke pasar Eropa masih terkait dengan alih fungsi hutan atau deforestasi, khususnya dari wilayah Kalimantan. Dalam laporan berjudul Risky Business, ditemukan bahwa sejumlah besar produk kayu yang dijual di Eropa berasal dari pemasok besar yang menerima kayu hasil pembukaan hutan alam.

Investigasi ini dilakukan setelah kedua lembaga tersebut memperoleh lebih dari 10.000 dokumen pemerintah yang belum dipublikasikan. Dokumen-dokumen ini membantu mengidentifikasi 65 pabrik dan penggergajian di Indonesia yang menggunakan kayu hasil pembukaan hutan alam, terutama di Kalimantan. Dengan menggabungkan data ekspor ke Uni Eropa, mereka menemukan bahwa lima pengguna terbesar kayu deforestasi pada 2024 semuanya mengekspor produknya ke Eropa.

Tim Auriga Nusantara juga melakukan peninjauan ke empat lokasi hutan alam yang baru dibuka yang memasok bahan baku bagi lima perusahaan tersebut pada 2024. Mereka menemukan ribuan hektare lahan baru yang dibuka di Kalimantan Tengah, wilayah yang sebelumnya merupakan salah satu benteng terakhir habitat orangutan di dunia.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa kayu hasil deforestasi telah masuk ke pasar Uni Eropa. Sebuah perusahaan Belanda yang menerima kiriman kayu lapis dari Indonesia pada Februari lalu mengungkap lokasi asal kayu tersebut, yang ternyata menunjukkan ratusan hektare lahan yang telah hancur. Meskipun demikian, perusahaan tersebut menyatakan akan tetap melanjutkan kerja sama dengan pemasok lama mereka.

Perusahaan Belanda lainnya mengaku kepada Earthsight bahwa rantai pasok kayunya terlacak hingga PT MP, salah satu perusahaan dengan tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan informasi publik membuat Earthsight sulit menelusuri ke mana sebagian besar produk kayu hasil deforestasi itu berakhir.

Pada 2024, lima perusahaan Indonesia tersebut mengekspor 23.272 meter kubik (m³) kayu lapis, papan taman, dan kusen pintu ke Eropa. Semua kiriman ini berasal dari jenis pohon yang hanya tumbuh di hutan alam. Destinasi utama ekspor ini adalah Belanda, Belgia, dan Jerman, dan seluruhnya dilakukan secara legal. Sebagian kayu mungkin berasal dari penebangan selektif, namun Earthsight menilai seluruh pengiriman dari kelima perusahaan tersebut memiliki risiko tinggi mengandung kayu hasil deforestasi.

Meskipun banyak perusahaan Eropa mengklaim menerapkan prinsip keberlanjutan, sebagian besar tidak dapat menjelaskan asal kayu mereka atau bagaimana mereka menghindari kayu hasil deforestasi. Perusahaan-perusahaan ini adalah importir dan grosir produk kayu keras yang melayani setidaknya sembilan negara Eropa, terutama Belgia, Jerman, Prancis, dan Belanda.

Aron White, Kepala Tim Earthsight untuk Asia Tenggara, menyampaikan bahwa ada risiko nyata bahwa Eropa sedang membantu menghancurkan salah satu benteng terakhir orangutan di Bumi melalui aktivitas impor ini. Ia menekankan pentingnya penerapan Regulasi Deforestasi UE tanpa penundaan.

Menurut Earthsight dan Auriga, risiko impor kayu deforestasi dari lima produsen Indonesia tersebut makin tinggi karena kurangnya transparansi. Dalam rekaman investigasi, dua perusahaan bahkan menyangkal menggunakan kayu hasil deforestasi, padahal dokumen resmi pemerintah menunjukkan bahwa mereka membeli masing-masing 3.594 m³ dan 2.757 m³ kayu hasil deforestasi pada 2024, dengan 88% dan 74% ekspor mereka dikirim ke Eropa pada tahun yang sama.

Hilman Afif, juru kampanye Auriga Nusantara, menyatakan bahwa kehancuran hutan Kalimantan bukan hanya tragedi Indonesia, tetapi juga tragedi global. Orangutan terusir, masyarakat adat kehilangan ruang hidup, dan iklim menjadi kian tidak menentu, ini mencerminkan rapuhnya tata kelola hutan kita.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa laju deforestasi di Kalimantan terus meningkat, dengan kehilangan sekitar 129.000 hektare hutan pada tahun lalu. Angka ini setara dengan luas Kota Roma atau Los Angeles. Penjualan kayu menjadi sumber pendanaan utama bagi konversi hutan tropis kaya keanekaragaman hayati menjadi perkebunan monokultur skala besar. Dalam beberapa dekade terakhir, penebangan dan ekspansi pertanian telah menghancurkan sebagian besar hutan tropis dunia, meninggalkan hanya sekitar 36% yang masih utuh pada 2019, serta menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar.

Tahun lalu, deforestasi di Indonesia, terutama di Kalimantan, menyebabkan emisi iklim yang melebihi total emisi Belanda.

Posting Komentar

Posting Komentar