P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Kuntau Kembali Dihidupkan dalam Festival Tari Kreasi Daerah Pedalaman Tana Tidung

Featured Image

Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman Tana Tidung Hadirkan Seni Bela Diri Tradisional Kuntau

Di tengah berlangsungnya Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman Tana Tidung, Kalimantan Utara, sebuah pertunjukan yang menarik perhatian masyarakat adalah penampilan seni bela diri tradisional Suku Tidung yang dikenal dengan nama Kuntau. Pertunjukan ini disajikan di panggung yang berada di RTH Djoesoef Abdullah, Jalan Perintis, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Tana Tidung, pada malam hari Selasa (25/11/205).

Kuntau atau sering juga disebut Tok Kawit merupakan salah satu bentuk kesenian bela diri yang memiliki nilai budaya tinggi. Dalam acara tersebut, lima orang seniman remaja tampil secara apik dan memukau. Mereka berhasil membawakan aksi yang menggambarkan kekayaan budaya Suku Tidung.

Efendy, Ketua Karang Taruna Kecamatan Sesayap Tana Tidung, menjelaskan bahwa seni bela diri Kuntau mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Ia menyatakan bahwa kesenian ini selama ini semakin meredup dan tidak lagi diminati seperti dulu.

"Kuntau atau Tok Kawit ini adalah salah satu seni bela diri tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Suku Tidung yang selama ini sudah mulai meredup," ujarnya.

Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali kesenian Kuntau kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Efendy menekankan bahwa tujuan dari penampilan ini adalah untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa Suku Tidung memiliki seni bela diri sendiri yang patut dilestarikan.

"Dengan acara ini kita tampilkan kembali supaya masyarakat khususnya anak-anak muda yang ada di Kabupaten Tana Tidung bisa mengenal dan tahu ternyata suku Tidung punya seni bela diri sendiri dan kita di sini cuma untuk memeriahkan saja tidak dilombakan," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seni bela diri Kuntau dulunya cukup diminati, bahkan banyak dari peserta yang pernah mengikuti telah menjadi anggota polisi dan TNI. Namun, seiring waktu, minat terhadap kesenian ini mulai menurun. Oleh karena itu, ia menilai penting untuk mengenalkan kembali Kuntau agar tidak hilang dari budaya Suku Tidung.

"Kita perlu melestarikan kembali agar tidak menghilang dari budaya Suku Tidung. Dulu kuntau ini cukup banyak peminatnya bahkan yang dulu pernah ikut sudah jadi polisi dan TNI, tapi seiring waktu dan zaman mulai turun peminatnya jadi di sini lah momennya kita mengenalkan kembali untuk melestarikan lagi dan jangan sampai punah," tambahnya.

Efendy juga menjelaskan bahwa perbedaan antara Kuntau dengan seni bela diri lainnya, termasuk silat, terletak pada kreasi jurusnya. Ia menegaskan bahwa bentuk bunga atau gerakan dalam Kuntau berbeda dengan silat pada umumnya.

"Pertunjukan memukau yang dibawakan para seniman di panggung Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir dan Pedalaman ini sendiri tidak dilakukan secara instan. Persiapan dilakukan selama kurang lebih dua minggu lamanya untuk memaksimalkan performance dengan mematangkan latihan-latihan yang telah dilakukan sebelumnya."

Menurutnya, informasi tentang tampil di festival ini diterima sekitar dua minggu sebelum acara. Meski waktu persiapan terbatas, mereka tetap melakukan persiapan secara maksimal.

"Kita dapat informasi untuk tampil itu kurang lebih dua minggu sebelumnya jadi kita persiapkan secara maksimal untuk tampil ya dalam waktu segitu juga, tapi sebelumnya kan mereka sudah biasa latihan juga," pungkasnya.

Posting Komentar

Posting Komentar