
Komitmen Pemerintah Lampung dalam Melestarikan Budaya dan Agama
Pemerintah Provinsi Lampung terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya dan memperkuat nilai-nilai religius daerah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung penuh penulisan Mushaf Al-Qur’an dengan nuansa budaya Lampung bertajuk Mushaf Lampung – Sang Bumi Ruwa Jurai. Karya ini digagas oleh Perkumpulan Kaligrafer Lampung Indonesia (Perkazi) dan diharapkan menjadi karya monumental yang mencerminkan jati diri masyarakat Lampung.
Dukungan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, saat menerima audiensi dari Perkazi bersama Plt. Kanwil Kemenag dan UIN Raden Intan Lampung di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut, Marindo menyatakan bahwa Pemprov Lampung akan memberikan dukungan sepenuhnya agar karya ini dapat terealisasi secara maksimal.
“Kami sangat bangga dengan inisiatif penulisan Mushaf Lampung ini. Karya ini bukan hanya bernilai spiritual, tapi juga budaya. Pemprov akan mendukung sepenuhnya agar Mushaf ini benar-benar menggambarkan jati diri Lampung yang religius dan berbudaya,” ujarnya.
Marindo juga mengajak para budayawan dan seniman lokal untuk ikut serta dalam proses perancangan Mushaf ini. Tujuannya adalah agar nilai-nilai adat, simbol, dan filosofi khas Lampung benar-benar terepresentasikan secara otentik dalam karya tersebut. Ia berharap Mushaf Lampung ini menjadi kebanggaan bersama sekaligus warisan bagi generasi mendatang.
Proses Penulisan Mushaf Lampung
Penulisan Mushaf Lampung – Sang Bumi Ruwa Jurai akan melibatkan kaligrafer terbaik dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Setiap dua juz Al-Qur’an akan menampilkan iluminasi dan ornamen khas daerah yang menggambarkan kekayaan budaya setempat, seperti motif siger, tapis tradisional, pucuk rebung, perahu, dan pohon hayat. Seluruh unsur tersebut merepresentasikan filosofi “Sang Bumi Ruwa Jurai” yang menjadi simbol persatuan dua adat besar Lampung, yaitu Pepadun dan Saibatin.
Ketua Perkazi Lampung, Zuhdan Naufali, menjelaskan bahwa karya ini tidak hanya berfungsi sebagai mushaf untuk dibaca, tetapi juga sebagai media dakwah visual yang memadukan Islam dan budaya lokal. Ia menekankan bahwa Mushaf Lampung adalah wujud cinta terhadap Al-Qur’an sekaligus bentuk penghargaan terhadap warisan budaya. “Ini bukan sekadar proyek penulisan, melainkan karya peradaban yang akan dikenang sepanjang masa,” ujarnya.
Potensi Wisata Religi dan Identitas Budaya
Selain bernilai religius, Mushaf Lampung juga diharapkan menjadi ikon kebanggaan daerah dan potensi wisata religi baru di Provinsi Lampung. Tokoh budayawan Lampung, Anshori Djausal, menilai karya ini akan menjadi simbol spiritual masyarakat Lampung. “Jika Menara Siger menjadi ikon fisik Lampung, maka Mushaf Lampung akan menjadi ikon rohani yang memperkuat identitas daerah. Karya ini bisa menarik wisatawan religi sekaligus memperkaya literasi Islam di Nusantara,” katanya.
Sejarah menunjukkan bahwa Islam telah berakar kuat di tanah Lampung sejak abad ke-15. Mushaf tertua yang ditemukan di daerah ini berasal dari abad ke-18 dan kini tersimpan di Museum Lampung. Karena itu, Mushaf Lampung dinilai sebagai kelanjutan dari tradisi luhur masyarakat Lampung dalam menjaga dan mengembangkan warisan Al-Qur’an.
Rencana Pencetakan dan Pengembangan
Rencananya, hasil penulisan Mushaf Lampung akan dijadikan koleksi berharga Museum Lampung dan dicetak dalam berbagai varian, termasuk versi standar, terjemahan dalam bahasa Lampung, serta versi digital agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an sekaligus memperkokoh karakter religius masyarakat Lampung.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir sejumlah tokoh penting, seperti Prof. Arsyad Sobby K., Plt. Kanwil Kemenag Lampung Erwinto, budayawan A. Moeloek, serta perwakilan Perkazi seperti A. Mukhozin. Dari pihak pemerintah, Sekdaprov didampingi oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Lampung, Yuri Agustina Primasari.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah, kalangan ulama, dan budayawan, penulisan Mushaf Lampung – Sang Bumi Ruwa Jurai diharapkan akan menjadi tonggak sejarah baru yang mempertemukan keindahan kaligrafi Islam dengan kekayaan budaya daerah. Sebuah langkah monumental yang mempertegas Lampung sebagai provinsi berbudaya luhur dan religius.



Posting Komentar