P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Tanpa Seragam dan Gaji, Asep Setia Merawat Makam di Pondok Ranggon

Featured Image

Kehidupan Perawat Makam di TPU Pondok Ranggon

Di tengah teriknya sinar matahari, Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Ranggon di Jakarta Timur tampak ramai dengan aktivitas yang menunjukkan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian makam. Banyak orang sibuk merapikan barisan makam, memotong rumput, menyapu daun kering, hingga menata batu nisan agar tetap rapi dan nyaman dikunjungi. Aktivitas ini dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk para perawat makam yang bekerja secara mandiri.

Salah satu tokoh yang dikenal dalam lingkungan TPU Pondok Ranggon adalah Asep (45), seorang perawat makam yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya di tempat tersebut. Saat ditemui, Asep baru saja menyelesaikan pekerjaannya memotong rumput di salah satu makam yang rutin ia rawat. Meskipun bekerja di lokasi yang sering dikunjungi oleh keluarga korban, Asep tidak termasuk dalam kategori Pekerja Harian Lepas (PHL) yang dikontrak dan digaji oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Karena itu, ia bekerja tanpa seragam dan mengatur sendiri ritme pekerjaannya.

"Kalau saya bukan PHL, jadi bebas enggak pakai seragam hijau-hijau. Bedanya kita sama PHL itu kalau pekerjaan, ya PHL bersihin atau bagian rumput lebat sekitar makam, kalau kita merapikan makam nya," jelas Asep saat ditemui, Selasa (26/11/2025).

Pendapatan yang Berbeda

Soal upah, Asep menjelaskan bahwa sistem penghasilannya berbeda dengan para PHL. "Kalau PHL kan bulanan dari pemerintah, kalau kita dari pemilik atau ahli waris makam, itu biasanya minimal Rp 50.000 per bulan," ungkapnya.

Asep merawat sekitar 30 makam, mulai dari menyapu, memotong rumput, hingga menyiram rumput agar tidak mengering. Meski begitu, ia tidak terlalu targetin jasa yang diberikan. "Kadang ada yang Rp 30.000 sebulan, tapi ya beda dengan yang Rp 50.000, karena yang Rp 50.000 rumput kita pupuk," tambahnya.

Meski tidak bergaji tetap seperti PHL, Asep menyebut pendapatannya tak terlalu jauh berbeda. "Ini kan kalau makam sekitar Rp 600.000 setahun dari satu makam, itu ada yang bayar tahunan, ada bulanan, ada juga per enam bulan. Pemasukan lain ya dari orang yang tiba-tiba minta membersihkan," jelasnya.

Bantuan dalam Penggalian Liang Lahat

Di luar tugas harian merawat makam, Asep juga kadang ikut membantu PHL dalam penggalian liang lahat. "Kalau gali pernah juga, sering lah, tapi biasanya PHL ngajak kita buat bantuan. Itu ya enggak ada tarif, ya ikhlas aja, tapi kadang ada mau ngasih buat makan, tapi kadang enggak," ungkapnya.

Peran Asep dalam lingkungan TPU Pondok Ranggon menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk menjaga kebersihan dan keindahan makam. Meski tidak memiliki status resmi sebagai PHL, kontribusi Asep sangat berarti bagi masyarakat yang ingin merawat makam anggota keluarganya. Dengan ketekunan dan kesabaran, ia terus berjuang di balik layar, menjaga kehormatan dan keindahan tempat peristirahatan akhir.

Posting Komentar

Posting Komentar