P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Wamenekraf Irene Umar: Kemandirian Ekonomi Dimulai dari Desa

Featured Image

Fokus pada Kemandirian Desa untuk Membangun Ekonomi yang Berkelanjutan

Di tengah gemerlap pariwisata Labuan Bajo yang semakin dikenal secara global, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menekankan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia sejati tidak berada di kota-kota besar, melainkan di desa-desa yang memiliki ketahanan dan kemandirian. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan bahwa jika dimulai dari tingkat desa, hasilnya akan lebih kuat dan stabil.

Menurut Irene, ekonomi kreatif bukan hanya tentang produk atau pasar, tetapi juga tentang bagaimana setiap daerah mengenali potensi dirinya sendiri. Hal ini mencakup manusia, budaya, serta sumber daya alam yang unik. Ia menegaskan bahwa Indonesia terlalu luas untuk hanya bergantung pada pusat-pusat ekonomi seperti Jakarta atau Surabaya. “Negara kita sangat kaya, tetapi seringkali kita tidak menghargai kekayaan sendiri,” ujarnya.

Pandangan Irene tentang pembangunan yang sejati adalah tumbuh dari bawah. Setiap daerah harus mampu mengidentifikasi tiga potensi unggulannya. Pemetaan ini menjadi peta jalan bagi ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan—sebuah ekonomi yang bersifat restoratif dan self-sustaining.

Konsep ekonomi restoratif yang diusung oleh Irene memiliki makna yang dalam: membangun tanpa merusak, mencipta tanpa menguras. Menurutnya, energi, pangan, dan kreativitas harus dikelola dengan prinsip kemandirian. “Kemandirian pangan bukan berarti harus berskala nasional. Itu dimulai dari rumah, dari desa, hingga menjadi kekuatan provinsi,” ujar Irene.

Kunjungan Irene ke Kampus Bambu Komodo, sebuah inisiatif Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo, menjadi contoh nyata dari gagasannya. Di sana, ia melihat bagaimana bambu—tanaman sederhana yang sering diremehkan—menjadi simbol inovasi dan ketahanan lokal. Dari rumah bambu hingga sepeda bambu, semua dirancang oleh tangan masyarakat setempat.

“Yang saya lihat di sini bukan hanya produk bambu, tapi kepercayaan. Kolaborasi. Keberanian untuk menciptakan solusi dari bahan yang ada di depan mata,” kata Irene, matanya menyapu deretan sepeda bambu yang disusun rapi di bawah langit senja Nusa Tenggara.

Irene menyoroti peran perempuan sebagai motor penggerak ekonomi komunitas. Di banyak desa, perempuanlah yang menjaga api dapur dan ide tetap menyala. “Perempuan adalah jantung dari ekonomi kreatif,” ucapnya. “Mereka tahu bagaimana mencipta dari keterbatasan, bagaimana memberi nilai pada hal-hal kecil yang sering kita abaikan.”

Lebih jauh, Irene menekankan pentingnya story-nomics—ekonomi berbasis narasi—as a cara Indonesia memperkenalkan produk kreatifnya ke dunia. Menurutnya, dunia kini tidak lagi membeli barang, tetapi cerita di baliknya. “Setiap tenun, setiap ukiran, setiap rasa, harus membawa kisah tentang siapa kita dan dari mana kita berasal,” katanya.

Kegiatan Kampus Bambu Komodo, tambahnya, bukan hanya tentang ekonomi, melainkan tentang identitas. Ia menyebutnya sebagai upaya memulihkan hubungan antara manusia, alam, dan nilai. Dalam semangat Asta Cita Ekraf, pemerintah berkomitmen menciptakan ekosistem kreatif yang tak hanya menumbuhkan lapangan kerja, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan akan potensi lokal.

“Kalau kita mau mendengar langsung dari masyarakat, solusi akan lahir. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Dari tanah, dari tangan, dari cerita,” pungkas Irene. Dan di Labuan Bajo sore itu, bambu yang tumbuh di tepi jalan seakan berbisik lembut: bahwa kemandirian bangsa memang selalu berakar dari desa.

0

Posting Komentar