Awal pertemuan Saepul dan Kunaefi, dari aplikasi kencan hingga kejadian mengerikan

Kehidupan Sehari-hari Saepul yang Tidak Menunjukkan Sinyal Bahaya
Sosok Saepul, yang kini menjadi tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan dan mutilasi terhadap Kunaefi di Depok, selama ini dikenal sebagai pria yang santun dan ramah. Ia bekerja sebagai penjaga stan Pisang Coklat (Piscok) Selamat Pagi di kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok. Mulai bergabung sebagai karyawan sejak Mei 2026, Saepul menjalankan tugasnya seperti pegawai biasanya tanpa menunjukkan sikap yang mencurigakan.
Bos Piscok Selamat Pagi, Dwi Purwadi, mengaku mengenal Saepul sebagai sosok yang mudah bergaul dan sopan. Menurut Dwi, Saepul tidak pernah menggunakan kata-kata kasar atau toxic dalam berbicara, bahkan dalam pesan singkat. Ia sering menggunakan ucapan seperti "Assalamualaikum" dan "Allahu Akbar" saat berkomunikasi.
"
Kata-katanya (Saepul) juga selama saya dengar bukan yang kata-kata kotor banget. Bukan yang toxic banget kayak gitu loh. Even kalau dia kaget pun kata-katanya yang ke agamis, kayak Allahu Akbar gitu. Bahkan di chat pun dia masih termasuk yang sopan ya pakai assalamualaikum mas, kayak gitu," ujar Dwi.
Meski begitu, beberapa hari sebelum insiden tersebut, Dwi mulai merasa ada perubahan pada perilaku Saepul. Perubahan pertama terjadi pada 22 Juli 2026 ketika Saepul meminta izin tidak masuk kerja. Ia menyampaikan bahwa dirinya akan mengikuti wawancara kerja di sebuah gerai makanan di kawasan Margo City. Awalnya, hal ini dianggap wajar karena merupakan langkah alami bagi seseorang untuk mencari peluang pekerjaan baru.
Namun, kejadian berubah hanya sehari setelahnya ketika Saepul kembali menghubungi atasannya. Pada 23 Juli 2026, ia mengirimkan pesan yang berisi keinginan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Keputusan ini membuat Dwi merasa heran karena tidak ada tanda-tanda ketidaknyamanan selama Saepul bekerja di stan piscok miliknya. Apalagi, Saepul disebut tidak memberikan alasan yang jelas mengapa ingin berhenti bekerja secara mendadak.
Dwi juga mengungkapkan bahwa Saepul masih memiliki utang kasbon kepada perusahaan sebesar Rp200 ribu yang belum diselesaikan. Setelah mengirimkan pesan pengunduran diri tersebut, Saepul tidak pernah lagi terlihat datang ke tempat kerjanya. Beberapa waktu kemudian, publik dikejutkan dengan kabar bahwa Saepul ditangkap penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan pembunuhan dan mutilasi terhadap Kunaefi.
Polisi mengungkap bahwa sebelum berhasil diamankan pada 5 Agustus 2026, Saepul sempat melarikan diri ke wilayah Pandeglang, Banten.
Motif Pembunuhan dan Pengakuan Tersangka
Untuk diketahui, Saepul membunuh Kunaefi di kontrakannya di Jalan Belimbing RT 03/RW 05, Kelurahan Cipayung Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok pada Kamis (23/7/2026). Belakangan motif pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Saepul terungkap.
Kepada penyidik, Saepul menceritakan alasannya tega menghabisi nyawa ayah dua anak itu. Setelah kabur ke kawasan Banten, Saepul mengurai pengakuan mengejutkan ke penyidik.
Saepul mengaku bahwa ia mengenal korban lewat aplikasi kencan khusus gay alias penyuka sesama jenis. Setelah kenalan, Saepul tergiur dengan sepeda motor yang ada di foto Kunaefi karena motor tersebut adalah impiannya.
"
Korban usia 51 tahun, awalnya pelaku ini berkenalan dengan korban melalui aplikasi kencan namanya Hornet. Pelaku berkenalan dengan korban dan saat saling bertukar foto, pelaku melihat ada motor yang dimiliki oleh korban dan motor itu adalah motor yang diidam-idamkan oleh pelaku," ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin.
Dari sanalah muncul niatan Saepul ingin bertemu Kunaefi guna menguasai sepeda motor miliknya. Saepul lalu mengajak Kunaefi bertemu di kontrakannya. Namun pertemuan Saepul dengan Kunaefi justru dipenuhi cekcok. Diakui Saepul, ia mengajak Kunaefi untuk berhubungan badan sesama jenis. Tapi permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh korban sehingga memantik amarah Saepul.
"Karena ketertarikan terhadap motor tersebut, ingin menguasai kendaraan yang dimiliki korban, korban diundang oleh pelaku ke kontrakannya. Di sanalah terjadi pembunuhan yang dilakukan pelaku," ujar Kombes Pol Iman Imanuddin.
"Pelaku dari awal sudah mempersiapkan diri untuk mengambil barang yang dimiliki korban. Ada pemicu yang terjadi, saat pelaku meminta kendaraannya, sempat terjadi pertengkaran karena pelaku diajak berhubungan disorientasi seksual, karena terjadi ketegangan, terjadi pertengkaran," sambungnya.
Saepul yang emosi langsung mengambil pisau di dapurnya lalu menusuk korban. Tak puas, Saepul memutilasi Kunaefi hingga menjadi beberapa bagian.
"Pelaku mengambil pisau dari dapur dan melakukan penusukan ke bagian perut korban. Kemudian untuk menghilangkan jejak, pelaku memotong bagian dari tubuh korban," kata Kombes Pol Iman Imanuddin.
Adapun niatan untuk membunuh, Saepul rupanya sudah menceritakan hal tersebut ke temannya. Saepul begitu ingin memiliki motor PCX dan rela melakukan hal apapun asal bisa memperolehnya.
"Saat ditanya (bagaimana cara dapat motor PCX), katanya (Saepul) 'Enggak tahu, mungkin membunuh orang,' begitu salah satu kalimat yang diucapkan oleh pelaku," imbuh Katimsus 2 Unit 1 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ipda Breggy Yesaya Imanuel Sutijono.
Akibat perbuatannya, Saepul terancam dijerat dengan Pasal 458 dan 459 KUHP tentang pembunuhan biasa dan berencana, dengan ancaman penjara paling lama 20 tahun.
Posting Komentar