Bukan kecepatan, ini alasan ultramaraton Jepang makin populer dan digemari
BROKERJA.COM Ultramaraton semakin populer di Jepang. Bagi banyak pelari, lomba dengan jarak lebih dari 42,195 kilometer tersebut bukan lagi sekadar ajang mengejar catatan waktu, melainkan perjalanan untuk menikmati pemandangan, kuliner, dan suasana daerah yang dilewati.
Dilansir dari Kyodo, Kamis (27/8), para peserta Nara Ultramarathon bahkan berlari selama sekitar setengah hari melewati hutan, sungai, dan situs bersejarah. Banyak peserta memulai lomba sebelum matahari terbit, sekitar pukul 04.30, dengan kepuasan mencapai garis finis menjadi hadiah utama.
Nara Ultramarathon yang digelar perdana pada Mei lalu mendapat sambutan besar. Kapasitas peserta sebanyak 3.000 orang habis hanya sehari setelah pendaftaran dibuka.
Menurut R-bies Co., penerbit majalah lari Runners yang berbasis di Tokyo, jumlah lomba ultramaraton domestik di Jepang meningkat dari 27 pada 2021 menjadi 44 pada 2025.
Jumlah peserta yang mengikuti lomba juga lebih dari dua kali lipat, dari sekitar 14.000 menjadi sekitar 32.000 orang dalam periode yang sama.
Berbeda dengan maraton penuh, ultramaraton sering digelar di sepanjang pesisir atau kawasan pegunungan. Penyelenggara menghadapi tantangan ketika harus menutup lalu lintas dalam waktu lama jika lomba digelar di tengah kota.
Nara Ultramarathon menjadi salah satu contoh. Perlombaan dimulai dari situs Istana Fujiwara di Kashihara, kemudian membawa pelari melewati perbukitan terjal di kawasan Asuka, menaiki 500 anak tangga menuju Kuil Kinpusenji yang masuk daftar Warisan Dunia, serta menyusuri Sungai Yoshino.
"Bagi saya, bagian terbaiknya adalah bisa berlari dikelilingi sungai dan hutan," kata Yusuke Kono, 39, warga Osaka.
Durasi lomba yang mencapai sekitar setengah hari membuat strategi peserta berbeda dari maraton biasa. Banyak pelari tidak terlalu memikirkan waktu dan justru menikmati pos bantuan serta berbincang dengan sukarelawan di sepanjang rute.
"Dalam maraton penuh, Anda tidak benar-benar punya waktu untuk berhenti dan makan di pos bantuan," kata Risako Morisaka, 48, warga Nara.
Namun, dalam ultramaraton, makanan justru menjadi bagian dari pengalaman. Morisaka mengatakan dirinya sempat mencoba dan membandingkan berbagai jenis sushi yang dibungkus daun kesemek.
"Anda tidak bisa menyelesaikan ultramaraton tanpa makan, jadi saya malah berlari sambil memikirkan di mana dan apa yang akan saya makan berikutnya," ujarnya.
Tantangan lainnya adalah cuaca panas. Ultramaraton di Jepang umumnya digelar pada musim semi dan panas, bukan musim dingin.
Penyelenggara Nara Ultramarathon menyediakan minuman olahraga dan tablet garam di setiap pos bantuan. Air juga disiapkan agar pelari dapat menyiramkannya ke tubuh untuk menurunkan suhu. Peserta dianjurkan membawa botol air sendiri agar dapat minum kapan pun diperlukan.
Takehiko Gyoba, pemimpin redaksi majalah Runners sekaligus peraih medali perak nomor putra pada Kejuaraan Dunia Ultramaraton 2018 di Kroasia, mengatakan pengalaman menjadi salah satu daya tarik utama lomba tersebut.
"Banyak pelari mengikuti lomba ini seperti sebuah perjalanan, menikmati pemandangan dan kesempatan berinteraksi dengan masyarakat setempat," katanya.
Menurut Gyoba, menyelesaikan ultramaraton saja sudah menjadi tantangan besar sehingga rasa pencapaian ketika mencapai garis finis menjadi sangat kuat.
Tomoko Kato, 49, warga Toki, Prefektur Gifu, merasakan hal serupa.
"Daya tariknya adalah ini bukan hanya soal kecepatan. Ketika melihat garis finis, saya sampai menitikkan air mata. Saya ingin berlari lagi," katanya.
Posting Komentar