Jadi saham teraktif sepekan, JP Morgan: Kinerja TPIA terdongkrak kilang Aster

Saham TPIA Menjadi yang Paling Aktif Ditransaksikan

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi salah satu saham yang paling aktif ditransaksikan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi saham TPIA mencapai Rp 3,91 triliun dalam seminggu, atau berkontribusi sebesar 5,08% dari total transaksi pasar. Pada Jumat (7/8/2026), saham TPIA menguat 4,69% ke level Rp 2.230 per saham. Dalam lima hari terakhir, kenaikan saham ini mencapai 2,76%.

Banyak analis memperkirakan bahwa saham TPIA masih akan bergerak menguat dalam jangka mendatang. Konsensus Bloomberg menyebutkan bahwa target harga saham TPIA adalah Rp 3.192 per saham dalam 12 bulan ke depan. Dari tiga analis yang memberikan rekomendasi "buy", dua di antaranya menyarankan untuk "hold". Salah satu analis, Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan, bahkan menyarankan "buy" dengan target harga hingga Rp 6.200 per saham.

Namun, tidak semua analis memiliki pandangan yang sama. Analis dari JP Morgan, Arnanto Januri, memberikan rekomendasi "neutral" terhadap saham TPIA. Dalam risetnya pada 29 Juli 2026, ia menyatakan bahwa kinerja TPIA mulai berbalik positif pada kuartal II 2026. Meskipun bisnis petrokimia masih mencatat kerugian, bisnis kilang minyak Aster menjadi penopang utama kinerja perusahaan.

Kinerja Kilang Aster Mengungguli Bisnis Petrokimia

Pada kuartal II 2026, laba TPIA mencapai US$ 137 juta, turun 6% dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi meningkat secara tahunan karena perusahaan berhasil berbalik dari posisi rugi pada periode yang sama tahun lalu. EBITDA TPIA juga menunjukkan pola serupa, turun 38% secara kuartalan, tetapi kembali berada di zona positif dibandingkan kuartal II 2025.

Menurut JP Morgan, kinerja kuartal II 2026 didukung oleh bisnis kilang Aster. Pendapatan operasional Aster mencapai US$ 341 juta, naik 148% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan asumsi utilisasi kilang sebesar 80%, JP Morgan memperkirakan bahwa kinerja tersebut setara dengan gross refining margin (GRM) hampir US$ 20 per barel pada kuartal II 2026.

Perubahan Profil Bisnis TPIA

Perkembangan bisnis TPIA telah berubah sejak perusahaan mengakuisisi kompleks milik Shell di Singapura pada 2025. Aset tersebut kemudian berganti nama menjadi Aster dan membuat TPIA tidak lagi hanya mengandalkan bisnis petrokimia, tetapi juga memiliki bisnis penyulingan minyak.

JP Morgan menilai bahwa konflik Timur Tengah berpotensi menciptakan level normal baru GRM Asia yang lebih tinggi dalam lima tahun ke depan. Namun, bisnis petrokimia TPIA masih berada di zona rugi pada kuartal II 2026. Kerugian tersebut menyempit dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi belum sepenuhnya pulih.

Investor Merespons Positif Prospek TPIA

Dari sisi pasar saham, investor telah merespons positif prospek kinerja TPIA. JP Morgan mencatat bahwa saham TPIA telah mengungguli IHSG sebesar 24% dalam satu bulan terakhir. Bahkan sebelum laporan kinerja dirilis, saham TPIA sudah mencatat outperformance sekitar 6%.

Meski prospek laba membaik, JP Morgan masih mempertahankan rekomendasi "neutral" terhadap TPIA. Salah satu pertimbangannya adalah valuasi saham yang masih tergolong premium dibandingkan perusahaan kilang di kawasan Asia-Pasifik. Jika TPIA dinilai berdasarkan bisnis kilangnya, valuasi perseroan mencapai sekitar US$61 juta per kbd kapasitas kilang. TPIA sendiri memiliki kapasitas kilang sebesar 237 kbd.

Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham TPIA

JP Morgan memperkirakan bahwa pergerakan saham TPIA selanjutnya akan lebih banyak ditentukan oleh spot GRM. Pergerakan margin kilang tersebut akan menjadi faktor penting yang menentukan arah laba TPIA pada kuartal III 2026.

Di luar bisnis kilang, posisi TPIA di industri petrokimia domestik tetap kuat. TPIA merupakan pemilik naphtha cracker terbesar di Indonesia dan memasok lebih dari 30% kebutuhan PE/PP domestik. Sebagai pembanding, sekitar 50% kebutuhan PE/PP Indonesia masih berasal dari impor.

JP Morgan melihat sejumlah faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi TPIA. Pertama, investor strategis dapat melakukan penjualan saham pada valuasi yang lebih tinggi. Kedua, lingkungan GRM tinggi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan. Ketiga, TPIA berpotensi membagikan dividen jika mencatatkan profitabilitas yang kuat sepanjang 2026.

Namun, terdapat pula sejumlah risiko yang dapat menekan saham. Risiko tersebut antara lain penjualan saham oleh investor strategis pada valuasi yang lebih rendah dari saat ini, normalisasi GRM dan spread PE/PP yang lebih cepat dari perkiraan, serta gangguan pasokan bahan baku yang dapat menekan volume penjualan bisnis petrokimia maupun kilang.

Kesimpulan

Cerita TPIA saat ini bukan lagi semata-mata tentang pemulihan bisnis petrokimia. Akuisisi Aster telah membuat kilang menjadi mesin pertumbuhan baru perseroan, dan tingginya GRM berhasil mendorong kinerja TPIA berbalik positif pada 2026. Namun, tantangannya bagi investor adalah memastikan apakah margin tinggi tersebut dapat bertahan cukup lama. Di tengah momentum laba yang positif dan kenaikan saham yang signifikan, JP Morgan menilai valuasi TPIA masih terlalu premium untuk mendorong perubahan rekomendasi dari Neutral.

Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART