Jejak Pater Paul Arndt SVD, Misionaris Jerman di Budaya Ngada

Kegiatan Napak Tilas Jejak Pater Paul Arndt SVD di Ngada
Komunitas Pengkaji Budaya Ngada Loka Tua Mata Api menggelar kegiatan napak tilas jejak Pater Paul Arndt SVD, seorang misionaris sekaligus antropolog asal Jerman yang memiliki kontribusi besar dalam mendokumentasikan budaya Ngada. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 8-9 Agustus 2026, dan dipusatkan di Kemah Tabor Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menyegarkan kembali memori kolektif masyarakat tentang sosok Pater Paul Arndt yang hingga kini karya-karyanya menjadi salah satu referensi penting dalam memahami budaya, kehidupan sosial, adat istiadat, serta filosofi hidup masyarakat Ngada.
Pater Paul Arndt tiba di Ngada sekitar tahun 1923 dan meninggal dunia di Mataloko pada tahun 1962. Selain menjalankan tugas sebagai misionaris, ia menghabiskan banyak waktunya untuk mengkaji kehidupan masyarakat serta hubungan antara budaya dan agama. Melalui berbagai penelitian dan catatan yang ditinggalkannya, Pater Paul Arndt merekam kekayaan budaya Ngada secara mendalam. Karya-karyanya menjadi warisan pengetahuan yang membantu generasi saat ini mengenal kembali akar budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Ngada.
Jejak tersebut kembali ditelusuri dalam kegiatan napak tilas yang dipimpin oleh Pater Felix Baghi sebagai ketua komunitas dan Pater Hubert Muda sebagai penasihat. Perjalanan dimulai dari Nua Wogo, Kampung Adat Wogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa. Di kampung ini, jejak Pater Paul Arndt masih terasa hingga hari ini. Di tempat tersebut, ia menyelami kehidupan masyarakat Ngada dengan hidup bersama warga, makan dan tidur bersama masyarakat, serta mendalami kehidupan iman yang berpadu dengan budaya setempat.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kampung Bokeh, sebuah kampung di Desa Dadawea. Di tempat ini, karya pelayanan Pater Paul Arndt juga masih dikenang masyarakat. Ia pernah mendirikan sebuah kapela yang secara fisik sudah tidak ada lagi. Namun, jejak pelayanan dan peninggalan yang ditinggalkannya masih tersimpan dan menjadi saksi sejarah.
Sejumlah peninggalan tersebut antara lain jubah, piala Ekaristi, tabernakel, ornamen 14 Kisah Sengsara Yesus, meja altar, salib, hingga patung Bunda Maria. Masyarakat setempat mengenang Pater Paul Arndt sebagai "Bapa / Ema Paul". Ia dikenang bukan hanya sebagai seorang imam, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan kehidupan spiritual sekaligus membuka wawasan masyarakat tentang dunia luar pada masa itu.
Perjalanan komunitas kemudian berlanjut ke sebuah bendungan yang menjadi cikal bakal berkembangnya persawahan di Roda, Kecamatan Golewa Selatan. Di tempat tersebut, Pater Paul Arndt dahulu menjadi salah satu penggerak dengan gagasan menghadirkan saluran air permanen bagi masyarakat. Gagasan tersebut kemudian memberikan manfaat bagi masyarakat hingga saat ini karena air dapat dialirkan untuk mendukung aktivitas pertanian.
Atas jasa dan jejak pelayanan tersebut, Komunitas Pengkaji Budaya Ngada Loka Tua Mata Api berencana membangun Kapela Paul Arndt SVD di Bokeh, tempat yang pernah menjadi bagian dari karya pelayanan Pater Paul Arndt puluhan tahun silam. Pater Felix Baghi selaku ketua komunitas mengharapkan dukungan dan kolaborasi masyarakat setempat untuk mewujudkan rencana tersebut.
"Kita membangun Kapel Paul Arndt di Bokeh. Kami minta tolong menjaga stasi dan jalan salib tadi, termasuk pakaian serta peninggalan-peninggalan itu agar tetap utuh. Suatu saat kita akan menghidupkan kembali semuanya sebagai bukti bahwa beliau pernah tinggal di sini. Paul Arndt masih hidup, buktinya iman masih dijaga di sini," ujar Pater Felix.
Menurut Pater Felix, Paul Arndt merupakan seorang antropolog yang hadir di Bokeh dan sejumlah wilayah di Golewa untuk menggali serta menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Ia melihat karya Pater Paul Arndt sebagai upaya membaca berkat Tuhan melalui alam, budaya, adat istiadat, serta hubungan manusia dengan lingkungan.
"Kalau kita membaca seluruh tulisan Paul Arndt, ia merekam seluruh Ngada, baik itu Mate Ngada, Sang Ngaja, maupun mitologi dan dongeng-dongeng yang berbicara tentang kemanusiaan, lingkungan hidup, rumah adat, dan perkawinan. Lewat dia, iman kita hidup dan adat kita tetap ada sampai sekarang," ujar Pater Felix.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang. Mereka terdiri atas kalangan akademisi, imam, biarawan dan biarawati, masyarakat adat dan budaya, pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa, serta tokoh pemuda dan mahasiswa.
Selain napak tilas, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan launching Komunitas Pengkaji Budaya Ngada Loka Tua Mata Api yang digelar di Aula Kemah Tabor Mataloko. Dalam kesempatan tersebut, Pater Hubert Muda mengharapkan komunitas ini dapat menjadi wadah untuk membangun komunikasi dan kerja sama dalam menjaga serta mengembangkan kebudayaan Ngada.
Menurutnya, komunitas tersebut harus menjadi rumah belajar bagi generasi muda sekaligus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan kontribusi dalam menjaga nilai-nilai budaya. Sementara itu, Pater Felix Baghi mengatakan komunitas tersebut lahir sebagai "bengkel budaya". Komunitas ini diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk kembali mengenal dan memahami akar budaya sebagai orang Ngada.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan deklarasi bersama yang dibacakan oleh Romo Dr. Rofinus Neto Wuli, yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas. Deklarasi tersebut menjadi penanda komitmen bersama untuk merawat budaya, menghidupkan kembali memori sejarah, serta meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, termasuk jejak panjang Pater Paul Arndt SVD di tanah Ngada.
Posting Komentar