Lompat Tali di Bondowoso Jadi Trend, Pemuda Cari Sensasi dari Ketinggian 15 Meter

Lompat Tali di Bondowoso Jadi Trend, Pemuda Cari Sensasi dari Ketinggian 15 Meter

Tren Olahraga Ekstrem di Bondowoso

Olahraga ekstrem Rope Jump kini menjadi tren baru di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Di akhir pekan, puluhan anak muda mencoba sensasi melompat dari ketinggian sekitar 15 meter menggunakan tali karmantel di Jembatan Ki Ronggo, Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Bondowoso. Wahana tersebut baru dibuka sekitar satu bulan. Namun, antusiasme sudah cukup tinggi. Setiap akhir pekan, pendaftaran Rope Jump ramai diburu anak muda dari Bondowoso hingga sejumlah daerah di kawasan Tapal Kuda.

Bagi sebagian orang, olahraga ekstrem ini bukan sekadar mencari adrenalin. Rope Jump dianggap menjadi cara untuk melepas penat dan beban pikiran. Sebagian peserta lainnya mengaku tertarik karena olahraga ekstrem seperti Rope Jump dan Canyoneering tengah ramai di media sosial.

Keberagaman Peserta dan Fasilitas yang Disediakan

Koordinator Komunitas Vertical Adventure, Bapung, mengatakan peserta Rope Jump tidak hanya berasal dari Bondowoso. Peminat juga datang dari Jember dan sejumlah daerah lain di kawasan Tapal Kuda. "Cakupan pesertanya se-Tapal Kuda, ada dari Jember dan Bondowoso. Kami biasanya buka kegiatan ini pada hari Sabtu dan Minggu," ujar Bapung saat dikonfirmasi, Minggu (9/8/2026).

Mereka biasanya mendaftar melalui Direct Message (DM) akun media sosial Vertical Adventure. Dengan biaya Rp 250.000, peserta dapat mencoba wahana tersebut sekaligus memperoleh fasilitas makan dan dokumentasi foto serta video. Selain itu, pengelola menempatkan faktor keselamatan sebagai prioritas.

Pengembangan Wisata di Bondowoso

Sebelum mengembangkan Rope Jump di Jembatan Ki Ronggo, komunitas yang mayoritas beranggotakan pecinta alam tersebut telah mengelola aktivitas Canyoneering di sejumlah air terjun di Bondowoso selama sekitar satu tahun. Beberapa lokasi yang pernah menjadi tempat kegiatan antara lain Air Terjun Pajangan, Patirana, dan Tancak Jomblo di Desa Andungsari, Kecamatan Pakem.

Tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan tersebut kemudian mendorong Vertical Adventure mencari lokasi baru untuk mengembangkan olahraga ekstrem. Bapung bersama anggota komunitas tertarik memanfaatkan sisi barat Jembatan Ki Ronggo setelah sebelumnya sering menggelar latihan gabungan Vertical Rescue bersama sejumlah instansi.

Menurut mereka, kawasan tersebut memiliki potensi wisata karena aksesnya relatif mudah dan sisi barat jembatan tidak banyak dilintasi kendaraan. Dengan ketinggian sekitar 15 meter, lokasi tersebut dinilai cukup memberikan sensasi bagi peserta yang ingin menguji keberanian.

Sistem Keselamatan yang Ketat

Menawarkan sensasi melompat dari ketinggian, pengelola menempatkan faktor keselamatan sebagai prioritas. Bapung yang sehari-hari bekerja sebagai teknisi Rope Access di ketinggian mengatakan sistem keselamatan dalam Rope Jump tersebut mengacu pada standar Rope Access.

Peserta menggunakan sistem pengamanan dengan tali utama dan tali cadangan. Tali di sisi kanan dan kiri juga dipasang serta diregangkan secara terukur untuk mengendalikan gerakan peserta setelah melompat. "Nanti dampaknya memunculkan efek pendulum (mengayun)," terangnya.

Selain sistem pengamanan, peserta juga wajib menjalani skrining kesehatan sebelum mengikuti aktivitas. Pengelola tidak mengizinkan peserta yang memiliki riwayat penyakit seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Skrining tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi peserta cukup aman sebelum melakukan lompatan.

Mencari Kenyamanan dan Kebebasan

Bapung mengatakan penikmat Rope Jump cukup banyak berasal dari kalangan perempuan. Sebagian di antaranya datang dengan alasan ingin menghilangkan rasa galau atau melepas beban pikiran. Salah satunya Siti Musrifah, peserta asal Kabupaten Jember. Rope Jump di Jembatan Ki Ronggo menjadi pengalaman pertamanya mencoba olahraga tersebut.

Sebelumnya, Siti hanya pernah mengikuti kegiatan Canyoneering. Ia mengaku penasaran setelah melihat tren olahraga ekstrem yang ramai di media sosial. Siti mengatakan sensasi melompat dari ketinggian justru membuat pikirannya terasa lebih lega. "Tidak merasa mual, cuma agak gugup pas di pinggir jembatan. Tapi begitu sudah melompat, semuanya terasa plong," ungkapnya.

Ia sengaja datang dari Jember untuk mencoba wahana tersebut. Meski penasaran dengan sensasinya, Siti tetap menyadari bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Sebelum melompat, ia mengikuti proses skrining kesehatan yang dilakukan pengelola.

Kombinasi Pengalaman dan Potensi Lokasi

Di balik pengelolaan wahana tersebut, sejumlah anggota Vertical Adventure juga memiliki pengalaman dalam aktivitas penyelamatan di medan ekstrem. Mayoritas anggota komunitas tersebut terlibat dalam aksi sosial melalui Makelar Akhirat, termasuk sebagai relawan dalam proses evakuasi jenazah pendaki di Gunung Piramid, Bondowoso.

Dalam proses evakuasi itu, mereka menggunakan metode lowering atau teknik vertical rescue untuk mengevakuasi korban dari kedalaman jurang sekitar 60 meter dengan kondisi medan yang sangat curam. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal komunitas dalam mengelola aktivitas yang berkaitan dengan teknik tali dan keselamatan di ketinggian.

Dengan kombinasi pengalaman teknis, potensi lokasi, dan tingginya minat anak muda, Rope Jump di Jembatan Ki Ronggo kini mulai menjadi alternatif baru wisata minat khusus di Bondowoso.


Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART