5 tips monetisasi konten media sosial agar bisa hasilkan cuan, apa saja?

Ringkasan Berita:
- Media sosial kini menjadi salah satu peluang mendapatkan penghasilan melalui pembuatan dan monetisasi konten.
- Chief Marketing Officer SCGI Agency Jessica Gautama membagikan lima hal yang perlu diperhatikan kreator, mulai dari relevance, hook dan value, menentukan audiens potensial, menjaga pesan tetap konsisten, membangun positioning dan karakter, hingga mengoptimalkan data serta engagement.
BROKERJA.COM, JAKARTA - Media sosial kini tak hanya menjadi ruang untuk berinteraksi dan berbagi informasi, tetapi juga menjadi salah satu ladang penghasilan bagi masyarakat.
Salah satu cara yang banyak dilakukan netizen Indonesia untuk mendapatkan cuan dari media sosial adalah membuat konten yang menarik, unik, dan kreatif.
Namun, konten yang menarik tidak serta-merta menghasilkan uang. Konten membutuhkan konsistensi, strategi, serta ekosistem yang mendukung agar dapat berkembang dan menghasilkan nilai ekonomi.
Chief Marketing Officer SCGI Agency, Jessica Gautama membagikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan bagi kreator yang ingin membangun konten sekaligus memonetisasinya.
Menurut Jessica, setidaknya ada lima hal penting yang perlu diperhatikan sebelum membuat konten dan mengembangkan peluang monetisasi di media sosial.
1. Perhatikan Relevance, Hook, dan Value
Jessica mengatakan, kreator perlu memperhatikan tiga hal utama sejak awal pembuatan konten, yakni relevance, hook, dan value.
"Kita harus memahami dulu apa yang sedang dibicarakan, dirasakan atau menjadi point audiens. Setelah itu baru diterjemahkan menjadi hook yang kuat dan format yang sesuai dengan behavior di platform tersebut," kata Jessica kepada media, belum lama ini.
Menurutnya, kreator memang perlu mengikuti perkembangan tren dan menangkap peluang yang ada. Namun, kreator tidak seharusnya hanya bergantung pada tren.
Konten yang kuat justru lahir ketika kreator memiliki sudut pandang dan karakter yang konsisten sehingga audiens memiliki alasan untuk kembali.
2. Tentukan Segmen dan Audiens Potensial
Menentukan target audiens tidak cukup hanya berdasarkan faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, maupun lokasi.
Kreator juga perlu memahami perilaku, minat, kebutuhan, serta komunitas yang dimiliki audiens.
"Misalnya, sama-sama perempuan usia 25–35 tahun bisa memiliki kebutuhan dan konsumsi konten yang sangat berbeda. Ada yang mencari career inspiration, parenting, beauty, wellness, atau entertainment," ujar Jessica yang merupakan lulusan Nanyang Academy of Fine Arts Singapore.
Menurut Jessica, kreator dapat memulai dengan menentukan kelompok yang paling membutuhkan atau merasa relevan dengan nilai yang ditawarkan.
Selanjutnya, pelajari kebiasaan mereka di platform digital, termasuk jenis konten yang biasa dikonsumsi dan bagaimana mereka berinteraksi.
Dengan cara tersebut, kreator dapat menemukan segmen audiens yang tidak hanya besar, tetapi juga relevan dan berpotensi melakukan tindakan.
3. Jaga Pesan Tetap Konsisten
Dalam sebuah kampanye, kreator sebaiknya memiliki satu pesan utama atau big idea yang sama.
Namun, cara menyampaikan pesan tersebut perlu disesuaikan dengan karakter setiap platform media sosial.
"Consistent message doesn't mean identical content," kata Jessica.
Menurutnya, TikTok dapat digunakan untuk konten yang lebih raw, entertaining, dan conversation-driven.
Sementara Instagram lebih mengutamakan sisi visual dan aspiratif. Adapun YouTube dapat dimanfaatkan untuk konten edukasi atau storytelling dengan durasi lebih panjang.
Artinya, yang perlu dijaga konsistensinya adalah pesan, positioning, dan karakter brand, bukan format kontennya.
Jessica mengingatkan kreator agar tidak sekadar menyalin satu konten ke seluruh platform. Sebab, setiap platform memiliki budaya dan perilaku audiens yang berbeda.
4. Bangun Positioning dan Karakter
Jika tujuan akhirnya adalah monetisasi, kreator disarankan tidak hanya mengejar jumlah pengikut.
Kreator perlu membangun positioning, membentuk karakter, dan menunjukkan proof of influence.
Menurut Jessica, brand saat ini tidak selalu mencari kreator dengan jumlah pengikut terbesar. Mereka juga mempertimbangkan kejelasan audiens, engagement yang sehat, karakter yang kuat, serta kemampuan kreator membangun kepercayaan dan mendorong audiens melakukan tindakan.
"Jadi, dibanding menjadi creator yang membahas semuanya, lebih baik punya area atau point of view yang mudah dikenali. Tunjukkan kemampuan membuat branded content secara natural dan siapkan media kit yang berisi audience profile serta performance," ujarnya.
Jessica mengatakan, monetisasi juga tidak harus selalu berasal dari endorsement.
Peluang penghasilan dapat datang melalui berbagai jalur, seperti brand partnership, affiliate, live atau social commerce, UGC creation, hingga menjadi KOL atau creative partner bagi sebuah brand.
5. Manfaatkan Data dan Engagement
Data juga menjadi bagian penting dalam pengembangan konten.
Jessica mengingatkan agar data tidak hanya digunakan untuk membuat laporan, tetapi juga menjadi dasar menentukan strategi konten berikutnya.
"Jangan berhenti mengekspor data hanya dari likes atau views. Lihat jauh lebih dalam. Bedah konten mana yang paling banyak menghasilkan watch time, shares, saves, comments, profile visits sampai conversion. Kemudian cari polanya," katanya.
Kreator perlu melihat apakah audiens lebih responsif terhadap konten edukasi, hiburan, storytelling, atau demonstrasi produk.
Selain itu, kreator juga dapat menganalisis jenis hook yang mampu membuat audiens bertahan serta topik yang paling banyak memancing percakapan.
Dari analisis tersebut, kreator dapat membangun pola evaluasi berkelanjutan, yakni publish, measure, learn, optimize, dan repeat.
"Buat saya, data bukan pengganti kreativitas. Data membantu kita memahami kreativitas seperti apa yang paling relevan untuk audiens. Sehingga, keputusan konten berikutnya tidak hanya berdasarkan feeling," tutup Jessica.
Baca berita BROKERJA.COMlainnya di WhatsApp.
Baca berita BROKERJA.COMlainnya di Google News.
Posting Komentar