Nasib guru SMP di Taliabu: Jadi korban penganiayaan, terduga pelaku masih bebas

Nasib guru SMP di Taliabu: Jadi korban penganiayaan, terduga pelaku masih bebas
Ringkasan Berita:1. Seorang guru SMP di Pulau Taliabu, Maluku Utara diduga menjadi korban penganiayaan berat
2. Guru tersebut diketahui bernama Rizal Agustiawan Majeng, seorang pengajar di SMPN 3 Satu Atap Taliabu Barat
3. Rizal mengungkapkan bahwa kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang dialaminya telah dilaporkan ke Polres Pulau Taliabu sejak 30 Juli 2026

BROKERJA.COM, TALIABU - Seorang guru SMP di Pulau Taliabu, Maluku Utara diduga menjadi korban penganiayaan berat.

Guru tersebut diketahui bernama Rizal Agustiawan Majeng, seorang pengajar di SMPN 3 Satu Atap Taliabu Barat.

Rizal mengungkapkan bahwa kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang dialaminya telah dilaporkan ke Polres Pulau Taliabu sejak 30 Juli 2026.

Namun hingga kini ia belum menerima kepastian mengenai perkembangan proses hukum kasus tersebut.

"Iya, sudah dilaporkan ke polres, tapi saya belum tahu perkembangannya sudah sampai di tahap mana, karena terduga pelaku masih berkeliaran di desa, "kata Rizal kepada BROKERJA.COM, Sabtu (5/9/2026).

Rizal mengaku rasa sakit akibat penganiayaan tersebut masih terus membekas meski sudah menjalani beberapa kali pijat tradisional.

Dampaknya, ia terpaksa mengambil izin libur mengajar selama kurang lebih satu bulan.

"Saya sudah izin mengajar karena bagian rusuk kanan masih terasa sangat sakit, "ujarnya.

Kronologis

Kapolres Pulau Taliabu AKBP Adnan Wahyu Kashogi membeberkan bahwa insiden penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 11.00 WIT.

Kejadian bermula saat korban menerima laporan bahwa bangunan gedung SMPN 3 Satu Atap dicoret-coret oleh oknum tak bertanggung jawab.

Korban bersama dua rekan guru lainnya menduga aksi vandalisme tersebut dilakukan oleh seorang warga bernama Jojon beserta kelompoknya.

Tak lama kemudian, korban mendengar bahwa para terduga pelaku telah dipanggil ke Kantor Desa Limbo untuk dimintai keterangan.

"Korban dan guru lainnya langsung bergegas ke kantor desa. Setibanya di sana, korban melihat pelaku pencoretan lebih dari satu orang, termasuk seorang pemuda bernama Eron yang merupakan mantan siswa sekolah tersebut, "ungkap AKBP Adnan saat menjelaskan kronologi kejadian, Kamis (13/8/2026).

Korban lantas mempertanyakan alasan Eron terlibat dalam aksi perusakan tembok sekolah.

Sebagai bentuk peringatan keras, korban sempat menampar pipi Eron satu kali.

Tapi setelah itu korban langsung meminta maaf dan menasihatinya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Tak berhenti di situ, korban mendatangi rumah orang tua Eron, yakni Labu, untuk meminta maaf secara langsung sekaligus menjelaskan kronologi yang sebenarnya.

Saat itu, Labu telah menerima permohonan maaf korban.

Setelah dari rumah orang tua Eron, korban mendatangi rumah rekannya untuk bersantai sembari menunggu jam mengajar siang.

Tiba-tiba, pengawas sekolah menghubungi korban dan mengabarkan bahwa Eron bersama rekannya, Karan, sedang mencarinya.

Korban pun menyampaikan keberadaannya.

Beberapa menit kemudian, Eron dan Karan tiba di lokasi dan langsung memukul dada korban sebanyak dua kali.

Aksi pemukulan tersebut bisa dilerai oleh dua rekan korban yang berada di tempat kejadian.

Korban sempat menjelaskan bahwa ia telah meminta maaf kepada ayah Eron.

Korban kemudian mengajak Eron dan Karan untuk menyelesaikan masalah ini secara baik-baik di rumah orang tua Eron.

Tapi setibanya di lokasi, Eron dan Karan tidak ikut masuk.

Korban yang masuk seorang diri lantas menceritakan insiden pemukulan yang baru saja dialaminya kepada Labu.

Bukannya meredam emosi, Labu justru tersulut amarah.

Ia mendadak melempar besi ulir ke arah korban dan memukul kepala korban sebanyak dua kali hingga tersungkur ke tanah.

Belum sempat berdiri, Labu menendang rusuk kanan korban sebanyak empat kali hingga korban kesakitan hebat.

Seorang warga yang melihat kejadian itu langsung menolong dan membawa korban pulang.

Korban sempat pingsan sebelum akhirnya dilarikan ke RSUD Bobong untuk mendapatkan perawatan medis. (*)

Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART