Sosok Aron Ashab, selebgram yang lama menghilang kini ngaku korban dugaan penyiksaan berbulan-bulan
Ringkasan Berita:
- Selebgram Aron Ashab mengaku menjadi korban penculikan, penyekapan, dan penyiksaan selama berada di sebuah tempat yang disebut sebagai pesantren di Tasikmalaya.
- Pihak bernama A Dede membantah tudingan tersebut dan menyebut Aron pernah tinggal di pesantren.
- Hingga kini, terdapat perbedaan pernyataan antara Aron dan pihak yang dituding, sehingga berbagai klaim mengenai dugaan penyiksaan, keterlibatan keluarga, serta kematian kakaknya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
BROKERJA.COMSosok Aron Ashab belakangan menjadi sorotan setelah dirinya mengungkapkan kisah hidupnya yang membuat publik tercengang.
Selebgram keturunan Arab itu secara blak-blakan mengaku diculik dan disiksa oleh seseorang.
Ia berencana mengungkap identitas pihak-pihak yang menurutnya terlibat dalam peristiwa itu.
Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Aron lewah unggahannya di media sosial Instagram.
Dalam curhatannya, pria berusia 33 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya ditangkap secara paksa, dipenjara tanpa alasan yang menurutnya jelas, serta mengalami kekerasan fisik selama berada di tempat tersebut.
Pengalaman yang dialaminya disebut membuat kondisi mentalnya terpuruk sebelum akhirnya memberanikan diri untuk buka suara kepada publik.
"Gw kemana selama ini lo tanya? Gw di PENJARA. Or bisa dibilang gw abis diculik trus dimasukin penjara. Penculikan bayaran yang dilakukan satu oknum dan difasilitasi preman preman kampretos yang sok keras berani nangkep gw pakai kekerasan, ngurung gw, nyiksa gw, gebukin gw maksa gw ini itu," tulis Aron Ashab di Instagram-nya, dilansir dari TribunnewsBogor.com pada Jumat (16/10/2026).
Aron juga menyiratkan bahwa dirinya kini siap kembali aktif di dunia hiburan dan media sosial setelah melewati masa-masa sulit tersebut.
"Oh iya gw mau terimakasih sih karna semua siksaan dan kurungan penjara kalian malah bikin jiwa gw ON lagi yang selama ini gw down se down downnya down. So, saatnya gw kembali ke dunia persilatan ga sih ni? Kalo gw bilang sih.. senjata makan tuan brok," ujar Aron.
Sosok Aron Ashab
Aron Ashab terlahir dengan nama lengkap Mohammad Haeran Ashab.
Ia lahir di Jakarta, 15 Agustus 1993.
Aron merupakan selebriti internet, youtuber, penyanyi, dan aktor Indonesia yang keturunan Arab dan Belanda.
Ia lahir dalam keluarga dokter. Ayahnya adalah seorang dokter anak bernama dr Gatami Ashab, SpA dan ibunya bernama Secha Hanny.
Memiliki tiga orang saudara, Aron Ashab adalah anak bungsu dari empat bersaudara.
Ia menempuh pendidikan di SMP Labschool Jakarta, kemudian melanjutkan ke jenjang SMA Negeri 8 Jakarta dan menempuh bangku kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Ngaku Diculik dan Disiksa
Hampir setahun tak terlihat di media sosial, selebgram Aron Ashab akhirnya kembali muncul dengan pengakuan mengejutkan.
Ia mengklaim dirinya menjadi korban penculikan, dikurung selama berbulan-bulan, hingga mengalami penyiksaan oleh sejumlah oknum.
Pernyataan Aron kemudian mendapat tanggapan dari seseorang yang mengaku sebagai pemilik tempat ia pernah tinggal.
Melalui komentar yang dibagikan kembali oleh Aron di media sosial, pria bernama A Dede itu membantah tudingan penculikan dan penyiksaan yang disampaikan sang selebgram.
A Dede bahkan memperingatkan Aron agar berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan.
Ia juga mengancam akan mengambil langkah hukum apabila tuduhan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kenyataan.
"Hati2 jangan asbun ron. Klo omongan loe gak sesuai yg ada loe gw somasi!!! kebiasaan playing victim pengen naikin popularitas dengan cara jual kesedihan. Harusnay tobat loe tuh bukan cuap2 bikin karangan gak jelas!! Ini gw A Dede! jangan norak!," kata A Dede.
Alih-alih membenarkan cerita Aron, A Dede menyebut bahwa selama ini Aron tinggal di sebuah pesantren.
Ia juga berharap pengalaman tersebut dapat membawa perubahan positif dalam kehidupan Aron.
"Aron kemarin sempat mondok di pesantren seharusnya aron menjadi pribadi yang lebih baik. Doakan aja aronnya hijrah jadi lebih baik ke depannya," imbuh A Dede.
Aron Ashab Pertanyakan Klaim Tempat Tersebut sebagai Pesantren
Menanggapi bantahan itu, Aron kembali melontarkan kritik terhadap pihak yang disebutnya bertanggung jawab atas pengalaman buruk yang dialaminya.
Ia mempertanyakan penyebutan tempat tersebut sebagai pesantren karena, menurut pengakuannya, aktivitas dan perlakuan yang diterima selama berada di sana tidak sesuai dengan pemahamannya mengenai pendidikan agama.
Aron juga mengungkapkan dugaan adanya aturan ibadah yang dianggapnya berlebihan serta hukuman fisik bagi penghuni yang tidak mampu mengikuti ketentuan di tempat tersebut.
"Bisa-bisa nya sang owner masih komen dengan pede nya. Tapi gw udah tau dia bakal berkelitnya ke arah ini pesantren. Darimana pesantrennya? Kita ada belajar agama nya secara baik dan benar kah? atau nyuruh kita sholat 120 rakaat sehari dan dzikir ber jam jam itu pesantren? menghafal dzikir tarekat aliran kalian dan kalau tidak hafal akan djepret dengan tasbih sebesar buah duku per biji nya sampai tangan kita pendarahan dalam?" tanya Aron.
Tak berhenti di situ, Aron mengklaim dirinya dan sejumlah orang lain pernah ditempatkan di ruangan bawah tanah.
Ia menyebut mereka tidak bebas keluar dan harus berada di sana dalam waktu lama.
Dalam pernyataannya, Aron turut mengaitkan tempat tersebut dengan kematian kakaknya.
Namun, klaim-klaim tersebut masih berupa pernyataan dari pihak Aron dan memerlukan verifikasi lebih lanjut.
"Masukin kita ke tempat bawah tanah dan kita gabisa keluar bahkan untuk melihat matahari selama berbulan-bulan bahkan tahun itukah pondok? Udah berapa orang meninggal di tempat anda saya tanya? even ABANG GW meninggal kan disana. Kalian benar benar manusia dzolim," kata Aron.
Aron juga membantah anggapan bahwa dirinya perlu diarahkan untuk berhijrah.
Ia justru menyoroti dugaan penyitaan ponsel miliknya serta pengalaman ketika dirinya diberi kesempatan menggunakan perangkat lain untuk menghubungi teman.
"Anda bilang saya suruh hijrah, mending anda yang hijrah kan hape anda disita sama abang anda karna anda melakukan suatu dosa toh? Dan dengan kerennya anda izinin saya pake tablet anda untuk kontak temen saya minta kirimin hape di iming gw bakal boleh megang hape, begitu sampai apa yang terjadi? Hape gw anda pake," pungkasnya.
Aron Sebut Tempat Itu Bukan Pusat Rehabilitasi
Dalam curhatannya, Aron turut mempertanyakan fungsi tempat tersebut.
Ia menilai keberadaan penghuni yang dikurung tanpa kepastian waktu, menurut pengalamannya, tidak disertai pendampingan konselor sebagaimana yang ia harapkan dari sebuah pusat rehabilitasi.
Aron pun menilai perlakuan yang diklaimnya dialami sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin persoalan tersebut berhenti hanya pada perdebatan di media sosial.
"Capek saya kalau harus sebutkan semua ke kacauan tempat ini dan kalian semua. Mau bilang apa lagi? Tempat rehab? Mana konselor nya? Kita cuma dikurung di dalem entah sampe kapan kalo gitu namanya lo main hakim sendiri dan melanggar HAM," sambungnya.
Aron juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan tindak kriminal yang menurutnya dapat menjadi alasan untuk ditahan.
Ia menduga dirinya ditempatkan di sana atas permintaan seseorang yang disebutnya memberikan bayaran kepada pihak lain.
Karena itu, Aron menyatakan akan membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dan meminta pihak yang dituding terlibat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"DAN SATU HAL yang gw juga heran kok bisa ga masuk masuk dikepala lo ini premis: gw ga NARKOBA, ga JUDOL, ga main SLOT, ga kekerasan ke orang, ga bunuh orang, basically gw TIDAK MELAKUKAN TINDAK KRIMINAL APAPUN. lo cuma nangkep gw atas suruhan satu orang karna lo dibayar. UDAH LAH stop. Lo itu penculik bayaran. Jadi sekarang udah anda duduk manis aja gausah banyak omong, kali ini gw yg megang bola. Sudah puas kan anda main mainin Hak Asasi Manusia saya kemarin anda injak injak," ungkap Aron.
Hingga kini, pernyataan Aron dan bantahan A Dede menunjukkan adanya perbedaan klaim mengenai apa yang sebenarnya terjadi selama Aron menghilang dari media sosial.
Siapa Dalang Penculikan Aron Ashab?
Sebuah akun Threads bernama Awllin mengungkap awal mula Aron mengaku diculik.
Rupanya kejadian berawal saat Aron kehilangan sang ayah tercinta untuk selamanya.
Usai peristiwa tersebut, Aron disebut-sebut langsung dikirim keluarganya untuk menetap di pondok.
Secara tak langsung akun tersebut menyebut bahwa dalang di balik pengakuan Aron soal penculikan itu adalah keluarganya sendiri.
"Aku sm bbrp temen nyariin aron kok kak, kami hubungi via WA dari Mei-Juni 2026 kmrn ceklis 1 hingg hari ini, kami mengira aron msh grieving selepas kepergian alm. Ayahnya dan ternyata ini memang dri internal keluarga yang mengirimkan aron ke pondok, tujuannya mungkin baik supaya aron jdi orang yg lebih baik, namun caranya mungkin kurang tepat karena “dipaksa” jadi aron membahasakannya dengan “penjara”," tulis akun awllin.
Sementara itu, setelah berhasil kabur dari tempat penculikan di Tasikmalaya, Aron pun mengumpulkan keberanian untuk curhat di media sosial.
Aron lantas mengaku bahwa dirinya punya bukti kuat soal tempat penculikannya yang ramai disebut sebagai pesantren.
Kata Aron, tempat tersebut tak mencerminkan lokasi untuk belajar agama yang baik.
"Gw udah tau kok kalian para penculik akan berkelit dengan menunggang agama. Naudzubillah. Tapi saya ga bodoh. Besok gw upload foto fotonya tenang aja gw ga stupid. Sebelum kabur gw udh persiapkan semua. Gw udh punya semua foto-foto bahkan video orang yang lagi di sel tikus gapake baju dia udah lo masukin berapa lama itu gw ada bro. Pesantren ada sel tikus? keren. Tenang aja," ungkap Aron.
Terbaru, Aron bahkan membongkar curhatan korban lainnya yang juga senasib dengan dirinya.
Seorang netizen ada yang curhat bahwa pernah ada keluarganya yang juga dibawa ke pesantren tempat Aron diculik.
"Sumpah viralin. Banyak bgt korban meninggal dr situ," kata netizen.
"Wait. U been there? (kamu sempat ke sana?)" tanya Aron.
"Kamu hebat bgt beraniii. Bukan," jawab netizen.
"Iyaa abang gw kan meninggal di situ," akui Aron.
"Keluarga ku sampe dia trauma bgt. Untung aku selamatin. Di sana dipukulin. Bahkan ada yg ditelanjangin di ikat kaki kepala di bawah serem bgt," ungkap netizen.
Ada juga netizen yang mengaku pernah tinggal di pesantren tersebut.
Ia pun mengurai perlakuan oknum pada para korban yang memilukan.
"Gas bro gw dukung lo!" ujar netizen.
"Oh brarti kita ga sempet ketemu ya?" tanya Aron.
"Engga. Jaman gua lebih parah bro. Lu bayangin anak di bawah umur digituin bro. Ortu gua aja marah setelah tau gimana perlakuan di dalam," pungkas netizen.
Ada juga netizen yang menceritakan pengalaman sang adik tinggal di pesantren tersebut.
Ia mengakui bahwa ada penyiksaan di sana, sama seperti cerita Aron.
"Jadi adekku agak aman istilahnya tapi tetep aja orang2 di sana disiksa. Keluarga mikir pondok itu bagus agamanya. Taunya malah penyiksaan. Kamu hebat kamu berani kalo mereka digrebek ditangkap kamu bisa selamatin banyak orang juga," imbuh Aron.
Atas kasus yang ia alami, Aron mengaku bakal membawanya ke jalur hukum.
Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com.
Posting Komentar