P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Tantangan Kekurangan Guru Masih Menghantui Pemerintah

Featured Image

Kebutuhan Guru Nasional Masih Belum Terpenuhi

Kebutuhan guru di tingkat nasional hingga saat ini masih belum bisa tercukupi. Hal ini membuat pemerintah daerah terus berupaya meminta bantuan dari pemerintah pusat untuk memenuhi jumlah guru yang diperlukan. Sayangnya, hingga kini kebutuhan tersebut belum dapat dipenuhi karena masih ada kendala dalam penganggaran.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Didi Sukyadi, menyampaikan bahwa masalah kekurangan guru selalu menjadi isu utama. Ia mengatakan hal ini usai mengukuhkan 451 lulusan Program Profesi Guru (PPG) UPI di Gedung Gymnasium UPI, Selasa (25/11/2025).

Banyak kepala daerah, baik bupati maupun wali kota, datang ke pemerintah pusat untuk meminta izin membuka formasi guru di wilayah masing-masing. Namun, kebutuhan tersebut tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah yang terbatas dalam anggaran, sehingga pengangkatan guru pun terbatas.

“Tetapi kemampuan pemerintah untuk mengangkat guru sesuai dengan kebutuhan itu masih terbatas,” ujarnya. Akibatnya, belum ada titik temu antara suplai dan kebutuhan guru.

Karenanya, ia berharap Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang sedang disiapkan oleh pemerintah dapat memastikan penggunaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN digunakan secara lebih tepat sasaran.

"Nah mudah-mudahan yang 20% ini digunakan secara tepat," katanya. Misalnya, saat ini pemerintah membiayai anggaran sekolah kedinasan dan dimasukkan ke dalam porsi 20 persen tersebut. Ia menegaskan bahwa pembiayaan sekolah kedinasan tidak mengambil dari alokasi 20 persen anggaran pendidikan, melainkan dari kementerian atau lembaga terkait yang membawahi sekolah tersebut.

"Kalau sekolah kedinasan mestinya menjadi beban dari departemen masing-masing. Pemerintah harus mengalokasikan 20% anggaran dari APBN untuk pendidikan," ujarnya. Harusnya 20 persen ini lebih mengutamakan untuk pembangunan sekolah rusak, pelatihan guru-guru, ataupun melakukan perbaikan pada lembaga yang menghasilkan guru hingga mensejahterakan guru. Termasuk juga untuk upgrading laboratorium hingga meningkatkan konektivitas internet.

"Itu mungkin salah satunya kalau kita mau pendidikan ke depan lebih bagus, guru-guru di seluruh Indonesia harus terpenuhi kebutuhannya," kata Didi.

Peringatan Hari Guru Nasional ke-80

Dalam memperingati Hari Guru Nasional ke-80, Didi menyampaikan apresiasi dan harapan besar bagi para pendidik Indonesia. Ia menegaskan bahwa keberadaan guru tak akan tergantikan, bahkan di era teknologi canggih dan kecerdasan buatan (AI) sekalipun.

"Saya menyatakan bahwa di zaman secanggih apapun di dunia AI sekarang ini, guru tetap tidak tergantikan," tegasnya. Menurutnya, meski AI dapat belajar dan dilatih, mesin tetap bergantung pada cara manusia mengarahkan dan mengisinya. Sementara itu, guru memiliki kemampuan yang tak dimiliki AI, seperti empati, kasih sayang, kreativitas dan kecerdasan emosional.

Ia menekankan pentingnya memastikan sistem pendidikan untuk guru berjalan menyeluruh, mulai dari proses rekrutmen, pendidikan prajabatan, pembinaan saat bertugas hingga pengembangan karir. "Karena itulah kita harus tetap memberikan yang terbaik untuk guru," ujarnya.

Pengukuhan Peserta Profesi Guru Prajabatan

UPN telah menggelar pengukuhan bagi Peserta Profesi Guru (PPG) Prajabatan gelombang dua. Dari total 450 lulusan, sebanyak 401 peserta hadir secara langsung, sisanya mengikuti proses secara daring dari daerahnya masing-masing.

PPG Prajabatan merupakan jalur pendidikan profesi bagi lulusan S1 dari berbagai program studi yang ingin menjadi guru profesional. Setelah mengikuti program selama satu tahun, para peserta akan memperoleh ijazah dengan gelar Guru (GR). Usai mendapatkan gelar tersebut, lulusan dapat menunggu proses rekrutmen guru, baik melalui jalur ASN maupun peluang mengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Didi menjelaskan bahwa kuota PPG ini ditentukan oleh Direktorat Jendral GTK. Setiap tahun jumlahnya berbeda-beda dan untuk gelombang ini jumlahnya kurang dari seribu peserta. Selain PPG Prajabatan, UPI juga menyelenggarakan PPG dalam Jabatan, yang pesertanya jauh lebih banyak. Tahun ini jumlah pesertanya mencapai hampir 30 ribu.

Berbeda dengan peserta Prajabatan, peserta dalam jabatan merupakan guru yang sudah mengajar namun belum memiliki sertifikat pendidik, sehingga sebagian besar prosesnya berupa penilaian portofolio dan ujian.

Pentingnya Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan

Didi menekankan pentingnya pengembangan kompetensi berkelanjutan atau Continuous Professional Development (CPD). Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru dituntut untuk terus belajar dan memanfaatkan berbagai sumber belajar digital yang kini mudah diakses melalui perangkat gawai.

Seperti Platform Massive Open Online Course (MOOC) bernama wajar.id, yang menawarkan berbagai materi seperti keterampilan presentasi, pembuatan media ajar, hingga pengetahuan dasar keguruan.

"Jadi kuncinya kita harus open minded atau terbuka, kemudian juga mau belajar dan terus melakukan adaptasi lincah karena yang sekarang ini yang akan bertahan bukan yang paling kuat tetapi yang paling bisa beradaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya," pesan Didi.

Posting Komentar

Posting Komentar