
Perubahan Besar di Balik Nama TOBA
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dikenal oleh sebagian besar investor sebagai perusahaan tambang batu bara. Namun, di balik citra yang melekat ini, TOBA sedang melakukan transformasi bisnis yang sangat radikal. Perusahaan ini secara aktif beralih dari energi hitam ke berbagai sektor energi hijau, termasuk motor listrik dan pengelolaan limbah.
Kehadiran nama besar di balik struktur kepemilikan saham membuat cerita ini semakin menarik. Salah satu pemegang saham kunci adalah PT Toba Sejahtra, sebuah perusahaan yang didirikan oleh mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Ini menjadi indikasi bahwa TOBA memiliki dukungan kuat dari pihak-pihak berpengaruh.
Dari Batu Bara ke Sektor Energi Hijau
Meskipun bisnis utama TOBA masih tercatat sebagai pertambangan batu bara, anak usahanya menunjukkan wajah baru perusahaan. TOBA telah secara agresif berekspansi ke berbagai lini bisnis energi terbarukan dan berkelanjutan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Kendaraan Listrik: Melalui PT Energi Kreasi Bersama, TOBA masuk ke dalam bisnis perdagangan kendaraan listrik.
- Energi Terbarukan: TOBA memiliki pembangkit listrik tenaga surya melalui PT Batam Energi Surya Sentosa dan pembangkit listrik mandiri lainnya.
- Pengelolaan Limbah: Perusahaan juga menggarap sektor pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) melalui PT Arah Environmental Indonesia dan entitas lainnya.
Transformasi ini mencerminkan visi perusahaan untuk tidak lagi bergantung hanya pada komoditas batu bara dan mencari peluang di ekonomi hijau.
Dua Pilar Kekuatan di Balik Layar
Strategi ambisius TOBA didukung oleh dua pemegang saham utama yang menjadi pilar kekuatan perusahaan. Pertama adalah Highland Strategic Holdings Pte. Ltd., sebuah entitas yang berbasis di Singapura dan merupakan pemegang saham pengendali dengan porsi kepemilikan mayoritas sebesar 60,356%. Kedua adalah PT Toba Sejahtra, grup usaha yang didirikan oleh Luhut Binsar Pandjaitan, dengan kepemilikan saham sebesar 7,975%.
Selain itu, jajaran dewan komisaris TOBA diisi oleh nama-nama kredibel dari dunia pemerintahan dan korporasi. Contohnya adalah Bacelius Ruru sebagai Komisaris Utama dan Dr. Ahmad Fuad Rahmany sebagai Komisaris.
Respons Pasar yang Volatil
Langkah transformasi besar ini mendapat respons pasar yang sangat volatil. Data perdagangan selama 50 hari terakhir menunjukkan bahwa saham TOBA sempat meroket dari level Rp 1.000-an pada akhir Agustus hingga menyentuh puncak di atas Rp 1.400 pada pertengahan September. Namun, harga sahamnya kemudian terkoreksi dan pada penutupan pasar terakhir, Jumat, 3 Oktober 2025, ditutup di level Rp 1.240 per lembar.
Investor saat ini sedang memantau sejauh mana efektivitas strategi transformasi bisnis TOBA dapat terwujud dan memberikan dampak positif pada kinerja keuangan perusahaan ke depan. Meski ada ketidakpastian, langkah perusahaan ini menunjukkan arah yang berbeda dari biasanya.



Posting Komentar