P4GXIpU6yeYF5fMCqPZCp42UuY5geVqMNRVk86R4

Cari Blog Ini

Laporkan Penyalahgunaan

Bookmark

Translate

Paula Verhoeven Tidak Terima Hak Asuh Anak Diberikan ke Baim Wong, Kuasa Hukum: Klaim Takut Ibu Tidak Benar

Featured Image

Perkembangan Terbaru Kasus Perceraian Paula Verhoeven dan Baim Wong

Kasus perceraian antara model ternama Paula Verhoeven dan aktor Baim Wong yang telah diputuskan pada 16 April 2024 kini menghadapi perubahan signifikan. Kini, Paula Verhoeven tidak hanya kecewa dengan putusan pengadilan terkait hak asuh kedua putranya, tetapi juga melakukan langkah hukum lanjutan untuk menegaskan pendiriannya.

Paula Verhoeven memutuskan untuk mengajukan banding ke Mahkamah Agung (MA) setelah merasa tidak puas dengan hasil putusan pengadilan agama. Ia kembali datang ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk menyampaikan keberatannya, terutama terkait pemberian hak asuh kepada Baim Wong. Dalam proses ini, ia juga hadir dalam pemeriksaan oleh Badan Pengawas MA, di mana berbagai fakta persidangan yang menarik mulai terungkap.

Klaim Anak Takut Ibu Dianggap Tidak Logis

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah klaim bahwa anak-anak Paula Verhoeven takut bertemu dengannya. Kuasa hukum Paula, Alvon Kurnia Palma, menilai klaim tersebut sangat tidak logis dan bertentangan dengan realitas yang terjadi. Menurutnya, anak-anak justru terlihat dekat dan nyaman saat berada di sisi ibunya.

Alvon menjelaskan bahwa selama pertemuan antara anak dan ibu, tidak ada tanda-tanda ketakutan atau ketidaknyamanan. Justru, anak-anak tampak manja dan bersikap akrab. Hal ini membuatnya meragukan kebenaran narasi yang muncul dalam putusan cerai.

“Faktanya anak bertemu dengan ibunya tidak kenapa-kenapa. Malah terlihat manja. Jadi di mana letak ketakutan itu?” ujar Alvon. Menurutnya, klaim tersebut jauh berbeda dari hasil evaluasi psikolog yang diajukan oleh pihak lawan.

Proses Observasi Psikologi Dipertanyakan

Alvon juga menyoroti proses observasi psikologi yang digunakan sebagai dasar putusan. Ia menilai bahwa metode yang digunakan tidak objektif dan cenderung tidak seimbang. Salah satu indikasi ketidakseimbangan adalah klaim bahwa anak lebih dekat dengan ayahnya. Menurut Alvon, hal ini bisa saja disebabkan oleh proses observasi yang tidak melibatkan pihak lain secara langsung.

“Bagaimana mungkin menyimpulkan anak takut kepada ibu jika tidak dipertemukan?” tanya Alvon. Ia menilai bahwa klaim tersebut hanya berasal dari satu pihak tanpa adanya konfirmasi dari pihak lain. Ini menunjukkan kurangnya objektivitas dalam penilaian psikologis.

Fokus pada Kesejahteraan Anak

Meskipun ada banyak tudingan dan perdebatan hukum, Alvon menyampaikan bahwa Paula Verhoeven masih berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Baim Wong. Tujuan utamanya adalah agar kedua orang tua dapat tetap menjalankan perannya masing-masing dalam kehidupan anak-anak.

“Paula berkeinginan agar kedua orang tua tetap berperan sebagai orang tua. Ayah sebagai ayah, ibu sebagai ibu. Itu yang harus dijaga demi psikologis anak,” kata Alvon. Ia menekankan bahwa kesejahteraan mental anak menjadi prioritas utama dalam segala bentuk keputusan yang diambil.

Tantangan Hukum dan Emosional

Polemik ini tidak hanya tentang hak asuh, tetapi juga tentang bagaimana proses hukum dilakukan. Para pihak terlibat harus menghadapi tantangan emosional dan hukum yang kompleks. Bagi Paula Verhoeven, penting untuk tetap mempertahankan hubungan baik dengan anak-anaknya meskipun situasi sedang sulit.

Dengan adanya banding yang diajukan, kasus ini masih memiliki potensi untuk berubah lagi. Semua pihak akan terus memantau perkembangan terkini, terutama dalam upaya mencapai solusi yang terbaik bagi kepentingan anak-anak.

Posting Komentar

Posting Komentar