8 kali tes baru lolos, begini perjuangan TKI Karanganyar sebelum tewas tenggelam di Jepang

Ringkasan Berita:
  • Heru Santoso (24), TKI asal Karanganyar, dikenang keluarga sebagai sosok gigih dan pekerja keras. Ia tewas tenggelam di Jepang.
  • Heru harus mengikuti tes kerja ke Jepang sebanyak delapan kali sebelum akhirnya lolos dan berangkat pada Maret 2024.
  • Sebelum meninggal, bos Heru ingin memperpanjang kontraknya hingga menawarkan pembuatan SIM Jepang. Heru sempat meminta waktu untuk mempertimbangkannya.

Laporan Wartawan BROKERJA.COM, Mardon Widiyanto

BROKERJA.COM, KARANGANYAR – Jalan Heru Santoso (24) untuk bisa bekerja di Jepang ternyata tidak mudah. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kelurahan Gayamdompo, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar itu harus mengikuti tes hingga delapan kali sebelum akhirnya dinyatakan lolos.

Perjuangan panjang tersebut dikenang oleh sang ibu, Dwi Purwanti (44), saat ditemui di rumah duka, Kamis (27/8/2026).

Menurut Dwi, Heru sejak awal memang memiliki tekad kuat untuk bekerja di Jepang. Kegagalan dalam beberapa kali tes tidak membuat putra sulungnya tersebut menyerah.

"Anak saya orangnya gigih, beberapa kali ikut tes kerja ke Jepang, tes ke 8 kali baru lolos," kata Dwi Purwanti, Kamis (27/8/2026).

Perjuangan Berbuah Hasil, Merantau 2,5 Tahun

Setelah berhasil lolos pada 2024, Heru berangkat ke Jepang pada Maret tahun yang sama.

Ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan Jepang hingga sekitar 2,5 tahun.

"Dia berangkat Maret 2024 lalu, diterima oleh perusahaan Jepang itu hingga sekarang, sehingga anak saya sudah merantau bekerja di Jepang selama 2,5 tahun," kata dia.

Selama bekerja di Jepang, Heru ternyata mulai memiliki rencana untuk melanjutkan masa depannya di negara tersebut.

Kepada ibunya, Heru sempat bercerita bahwa masa kontrak magangnya akan berakhir pada Maret 2027. Ia juga mendapatkan tawaran dari bosnya untuk memperpanjang kontrak.

Tidak hanya itu, pihak perusahaan bahkan disebut hendak membantu Heru mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) Jepang.

"Anak saya pernah cerita, bosnya inginnya kontraknya diperpanjang, sehingga anak saya akan dibuatkan SIM di Jepang, tapi dia bilang ke saya untuk pikir-pikir dulu," kata dia.

Kini Tinggal Kenangan Belaka

Rencana tersebut kini tinggal kenangan. Heru meninggal dunia setelah menjadi korban tenggelam di sungai di Jepang.

Bagi keluarga, perjalanan Heru menuju Jepang menjadi gambaran bagaimana ia berusaha keras mengejar cita-citanya. Ia tidak langsung berhasil, tetapi terus mencoba hingga tes kedelapan akhirnya membuahkan hasil.

Ayah Heru, Jamin (53), juga mengenang putranya sebagai sosok yang pekerja keras dan menyukai tantangan.

"Dia pekerja keras, saat di sini dia nyopir, kalau siang muat tebu, pulang bawa pasir, Saya sempat ingatkan kalau capek, istirahat. Pas pulang malag bawa pasir, namun dia lebih dekat ibunya," ungkap dia.

Heru merupakan putra pertama Jamin dan Dwi Purwanti. Ia memiliki dua adik laki-laki, Dwi Hatmoko dan Bagus Subandrio.

Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART
Techy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ARTTechy Pranav PKD ART